Jakarta – “Luka” dari Piala AFF 2026 belum sepenuhnya mengering bagi para pemain Timnas Indonesia. Sejumlah penggawa Garuda meluapkan perasaan setelah langkah Indonesia terhenti di fase grup turnamen sepak bola Asia Tenggara tersebut. Kekecewaan menjadi bagian dari respons para pemain setelah target melaju lebih jauh gagal diwujudkan.
Timnas Indonesia dipastikan gagal menembus semifinal setelah menjalani persaingan Grup A bersama Vietnam, Singapura, Kamboja, dan Timor Leste. Skuad asuhan John Herdman sebelumnya datang ke turnamen dengan komposisi yang memadukan pemain berpengalaman, pemain muda, dan sejumlah pemain diaspora. Sebanyak 26 pemain disiapkan untuk membawa Garuda mengejar prestasi di kawasan ASEAN.
Kegagalan itu terasa semakin pahit karena Indonesia sempat membawa harapan besar. Sebelum turnamen dimulai, Mitchell Baker bahkan menegaskan tekad untuk mengakhiri penantian panjang Indonesia meraih gelar juara Piala AFF. Garuda tercatat sudah enam kali mencapai final tanpa pernah mengangkat trofi.
“Kami sudah lolos ke final enam kali dan tim belum pernah menang di final. Jadi ini saatnya kami menang,” kata Mitchell Baker sebelum turnamen dimulai.
Optimisme tersebut pada akhirnya tidak berujung sesuai harapan. Indonesia justru harus mengakhiri perjalanan sejak babak penyisihan. Salah satu pukulan besar datang ketika Garuda kalah 0-3 dari Vietnam. Hasil-hasil sepanjang fase grup membuat Indonesia kehilangan kesempatan mengamankan posisi dua besar yang menjadi syarat untuk melaju ke semifinal.
Selepas kegagalan tersebut, emosi para pemain pun mencuat. Respons mereka menjadi gambaran beratnya tekanan yang menyertai skuad Merah Putih. Harapan publik yang tinggi, target prestasi di tingkat ASEAN, serta kualitas pemain yang dimiliki membuat tersingkir di fase grup menjadi hasil yang sulit diterima begitu saja.
Kegagalan tersebut sekaligus menghadirkan pekerjaan rumah bagi John Herdman. Pelatih asal Inggris itu dipercaya menangani Timnas Indonesia setelah sebelumnya membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022. Di Piala AFF 2026, ia menghadapi tantangan membentuk keseimbangan antara pemain berpengalaman dan generasi muda dalam waktu persiapan yang relatif terbatas.
Perjalanan Garuda sebenarnya dimulai dengan optimisme. Menjelang pertandingan pertama menghadapi Kamboja di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, para pemain menyatakan tekad meraih hasil maksimal. Jordi Amat dan rekan-rekannya menjalani pemusatan latihan untuk membangun kesiapan fisik, taktik, serta kekompakan sebelum memasuki persaingan turnamen.
Komposisi skuad Indonesia juga tidak minim pengalaman. Nama-nama seperti Jordi Amat, Marc Klok, Thom Haye, Sandy Walsh, Justin Hubner, Marselino Ferdinan, Rayhan Hannan, Beckham Putra, dan Mitchell Baker termasuk dalam kelompok pemain yang dipersiapkan menghadapi Piala AFF 2026. Kehadiran pemain senior dan talenta muda sempat memunculkan keyakinan bahwa Indonesia memiliki modal untuk bersaing memperebutkan gelar.
Namun, sepak bola kembali menunjukkan ironi: kualitas individu dan besarnya ekspektasi tidak selalu menjamin perjalanan mulus. Kekalahan dan kegagalan menembus fase gugur kini menjadi bahan evaluasi, terutama terkait konsistensi permainan, efektivitas serangan, transisi, hingga kemampuan tim menghadapi tekanan dalam pertandingan menentukan.
Turnamen ini juga berlangsung di tengah tantangan tersendiri karena Piala AFF bukan bagian dari kalender resmi FIFA. Situasi tersebut dapat memengaruhi ketersediaan pemain yang berkarier di luar negeri karena klub tidak berkewajiban melepas mereka. Kondisi itu sebelumnya sudah menjadi perhatian menjelang penyusunan skuad Indonesia.
Bagi para pemain, luapan emosi selepas turnamen memperlihatkan bahwa kegagalan tersebut bukan sekadar catatan hasil pertandingan. Ada harapan yang kembali tertunda setelah Indonesia berkali-kali mendekati gelar juara kawasan. Kini, respons paling penting adalah bagaimana kekecewaan itu diubah menjadi bahan evaluasi menjelang agenda internasional berikutnya.
Selepas Piala AFF 2026, Timnas Indonesia masih memiliki agenda internasional pada periode FIFA Matchday 21 September hingga 6 Oktober 2026 dan kembali pada 9–17 November 2026. Rangkaian pertandingan itu dapat menjadi kesempatan bagi Herdman untuk membenahi permainan sekaligus mengembalikan kepercayaan diri skuad Garuda.
Pada akhirnya, tersingkir dari Piala AFF 2026 menjadi pukulan yang meninggalkan emosi kuat di ruang ganti Garuda. Namun, perjalanan Timnas Indonesia belum berhenti. Kegagalan di tingkat ASEAN kini menjadi ujian bagi pemain dan tim pelatih untuk membuktikan bahwa kekecewaan dapat menjadi pijakan menuju penampilan yang lebih matang pada agenda berikutnya.
