Mojokerto – “Remaja hari ini adalah calon orang tua masa depan.” Pesan itu menjadi benang merah edukasi kesehatan yang disampaikan Bunda Genre Kabupaten Mojokerto, Shofiya Hanak Albarraa, kepada kalangan pelajar. Remaja didorong memahami bahwa pencegahan stunting tidak baru dimulai ketika anak lahir, melainkan perlu dipersiapkan jauh sebelumnya melalui pola hidup sehat, kecukupan gizi, pencegahan anemia, serta lingkungan yang terbebas dari asap rokok.
Pesan tersebut disampaikan dalam Program Remaja Sehat Cegah Rokok dan Anemia atau Praja Satria di MA Al-Islamy Sedati, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jumat (7/8/2026) pagi. Kegiatan diawali dengan senam bersama sebelum para peserta memperoleh edukasi mengenai risiko merokok, pencegahan anemia, pemenuhan kebutuhan nutrisi, hingga hubungan berbagai faktor tersebut dengan upaya menekan kasus stunting.
Bunda Genre Mojokerto yang akrab disapa Bunda Hana menilai masa remaja merupakan periode penting untuk membangun fondasi kesehatan. Pengetahuan mengenai makanan bergizi, anemia, dan dampak asap rokok dinilai perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda memiliki kesiapan lebih baik ketika kelak membangun keluarga.
“Pencegahan stunting harus kita mulai sejak remaja. Karena remaja hari ini adalah calon orang tua di masa depan. Maka, mereka harus memahami pentingnya gizi dan juga bahaya rokok, baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan di sekitarnya,” ujar Bunda Genre yang akrab disapa Bunda Hana.
Menurut Bunda Hana, dampak rokok tidak berhenti pada orang yang mengisapnya. Anak maupun anggota keluarga lain yang berada di sekitar perokok dapat menjadi perokok pasif. Kondisi tersebut membuat paparan asap rokok menjadi salah satu faktor lingkungan yang perlu diperhatikan dalam berbagai langkah pencegahan gangguan tumbuh kembang anak.
Selain berpengaruh terhadap kesehatan, kebiasaan merokok di lingkungan keluarga juga dapat menekan kemampuan ekonomi rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi. Uang yang semestinya dapat dialokasikan untuk membeli bahan pangan bernutrisi berpotensi terserap untuk pengeluaran rokok. Karena itu, upaya menciptakan rumah tanpa asap rokok dipandang memiliki manfaat kesehatan sekaligus ekonomi.
“Ketika orang tua merokok, yang terdampak bukan hanya dirinya. Anak juga bisa menjadi perokok pasif. Karena itu, kita ingin membangun kesadaran bahwa menciptakan rumah dan lingkungan yang bebas asap rokok merupakan bagian dari upaya melindungi tumbuh kembang anak,” jelasnya.
Pentingnya perhatian terhadap lingkungan juga tergambar dalam Asesmen Hasil Program Kegiatan Sekolah Bareng Dokter Spesialis Anak Kabupaten Mojokerto tahun 2024. Berdasarkan intervensi terhadap anak berusia 0 hingga 60 bulan di 27 puskesmas, paparan asap rokok dan polusi tercatat sebagai salah satu hambatan terbesar dengan persentase mencapai 65 persen.
Asesmen tersebut turut menemukan sejumlah persoalan lain yang berkaitan dengan tumbuh kembang anak. Faktor pola asuh tercatat sebesar 45 persen, keterbatasan kondisi ekonomi 20 persen, sedangkan riwayat kelahiran prematur maupun Berat Badan Lahir Rendah mencapai 10 persen. Data itu menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak dapat dilihat hanya dari satu penyebab.
Bunda Hana yang juga merupakan istri Bupati Mojokerto menilai pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai keluarga, sekolah, tenaga kesehatan hingga masyarakat. Menjangkau remaja melalui pendidikan kesehatan menjadi langkah penting karena mereka dapat membawa pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjadi calon orang tua yang lebih memahami kesehatan keluarga.
“Anak-anak dan remaja harus kita bekali dengan pengetahuan. Mereka harus tahu bahwa rokok memiliki dampak panjang terhadap kesehatan dan bahwa pencegahan stunting juga harus dipersiapkan sejak sekarang,” katanya.
Perhatian dalam kegiatan Praja Satria juga diarahkan pada kecukupan nutrisi remaja. Remaja putri menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian khusus karena berisiko mengalami anemia. Selain mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mereka didorong membiasakan konsumsi Tablet Tambah Darah secara rutin sesuai anjuran kesehatan.
Edukasi tersebut diharapkan diperkuat melalui penerapan Kawasan Tanpa Rokok di lingkungan pendidikan, pemeriksaan kesehatan berkala, pembentukan kelompok sebaya sebagai agen perubahan, serta peningkatan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi. Pendekatan sebaya dinilai penting karena pesan mengenai gaya hidup sehat dapat menyebar lebih mudah dari remaja kepada teman-temannya.
“Harapannya, edukasi ini tidak berhenti di kegiatan saja. Anak-anak dan remaja bisa menjadi agen perubahan, mulai dari dirinya sendiri, kemudian mengajak teman dan keluarganya untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas asap rokok,” pungkas Bunda Genre.
Melalui edukasi sejak usia remaja, Pemerintah Kabupaten Mojokerto berupaya memperkuat pencegahan stunting dari hulu. Pemahaman tentang bahaya rokok, pencegahan anemia, kecukupan gizi, dan pentingnya lingkungan sehat diharapkan menjadi kebiasaan yang terus dibawa generasi muda hingga mereka memasuki kehidupan berkeluarga.
