Bangkok – Persiapan Timnas Thailand menuju Piala AFF 2026 tidak berjalan sepenuhnya mulus. Pelatih Anthony Hudson mengakui dirinya menghadapi tantangan besar dalam menentukan komposisi pemain karena turnamen Asia Tenggara tersebut tidak masuk kalender resmi FIFA, sehingga sejumlah pemain andalan berpotensi tetap bersama klub masing-masing.
Situasi itu membuat Thailand harus menyusun skuad dengan perpaduan pemain muda dan sejumlah pemain senior yang tersedia. Federasi Sepak Bola Thailand (FAT) pun menjadikan Piala AFF 2026 sebagai bagian dari proses regenerasi tim nasional, sekaligus memberi pengalaman internasional kepada talenta muda.
Hudson menjelaskan proses pemilihan pemain menjadi jauh lebih rumit dibanding turnamen resmi FIFA. Selain harus mempertimbangkan kesiapan pemain yang tampil di liga domestik, ia juga tidak dapat memastikan kehadiran sejumlah pemain yang berkarier di luar negeri maupun mereka yang masih menjalani agenda pramusim bersama klub.
“Ini fase yang kompleks karena turnamen tidak berlangsung pada FIFA Matchday. Banyak pemain utama masih memiliki komitmen dengan klub, terutama pada masa persiapan pramusim,” ujar Anthony Hudson, dikutip dari media Vietnam The Thao 247, seusai rapat persiapan Federasi Sepak Bola Thailand di Bangkok, Kamis (25/6/26).
Meski tidak diperkuat seluruh pemain terbaiknya, Hudson menegaskan Thailand tetap membidik hasil maksimal. Menurutnya, fokus utama tim adalah membangun kekompakan, meningkatkan kualitas permainan, dan memaksimalkan potensi seluruh pemain yang tersedia.
“Kami fokus menghadapi satu pertandingan demi satu pertandingan, membangun kekompakan, dan memaksimalkan semua pemain yang tersedia,” kata Hudson dalam pernyataan resmi yang dikutip dari BallThai, Bangkok, Kamis (25/6/26).
Keputusan menggunakan skuad campuran merupakan bagian dari strategi jangka panjang Thailand. Negara yang menjadi salah satu kekuatan utama sepak bola Asia Tenggara itu ingin mempercepat regenerasi tanpa mengabaikan target prestasi. Beberapa pemain senior tetap dipertahankan untuk menjaga keseimbangan tim sekaligus membimbing para pemain muda yang baru mendapatkan kesempatan di level internasional.
Kondisi serupa sebenarnya juga dialami sejumlah negara peserta, termasuk Indonesia. Karena Piala AFF 2026 bukan agenda resmi FIFA, banyak klub tidak berkewajiban melepas pemain yang berkompetisi di Eropa maupun liga-liga luar negeri. Situasi ini membuat hampir seluruh peserta harus mengandalkan pemain yang tersedia di kompetisi domestik atau kawasan Asia Tenggara.
Bagi Thailand, tantangan tersebut menjadi ujian untuk menjaga dominasi di kawasan. Selama bertahun-tahun, Negeri Gajah Putih dikenal sebagai salah satu tim paling konsisten di Asia Tenggara. Namun, perubahan komposisi skuad membuka peluang bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia dan Vietnam, untuk bersaing lebih ketat dalam perebutan gelar.
Penggunaan skuad campuran juga memperlihatkan pentingnya kedalaman pemain dalam sebuah tim nasional. Negara yang memiliki kompetisi domestik kuat cenderung lebih siap menghadapi turnamen di luar kalender FIFA karena masih memiliki banyak pemain dengan kualitas kompetitif.
Piala AFF 2026 diperkirakan berlangsung dengan persaingan yang lebih terbuka dibanding edisi-edisi sebelumnya. Tidak lengkapnya kekuatan beberapa tim unggulan membuat peluang juara menjadi lebih merata. Keberhasilan setiap peserta akan sangat ditentukan oleh kemampuan pelatih meramu strategi, menjaga konsistensi permainan, dan memaksimalkan potensi pemain yang tersedia.
Bagi Thailand, keputusan menurunkan skuad campuran bukan sekadar solusi atas keterbatasan, tetapi juga investasi untuk masa depan sepak bola nasional. Jika para pemain muda mampu tampil menjanjikan, turnamen ini dapat menjadi fondasi penting bagi pembentukan tim yang lebih matang untuk menghadapi kompetisi resmi di tingkat Asia maupun dunia.
