Tasikmalaya – Kota Tasikmalaya mulai mengarahkan pengembangan sektor pariwisatanya pada kekuatan yang selama ini menjadi identitas daerah, yakni sejarah dan kebudayaan. Di tengah keterbatasan destinasi wisata alam, Pemerintah Kota Tasikmalaya menilai warisan sejarah, tradisi, serta kekayaan budaya lokal dapat menjadi daya tarik baru yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat.
Komitmen tersebut disampaikan melalui Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya yang terus mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, media, komunitas, dan budayawan. Sinergi lintas sektor dinilai menjadi kunci dalam menjaga identitas budaya sekaligus mengembangkan potensi pariwisata berbasis kearifan lokal.
Kepala Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Deddy Mulyana, mengatakan pembahasan sejarah dan budaya tidak dapat dibatasi oleh wilayah administratif. Menurutnya, Kota Tasikmalaya memiliki hubungan historis yang erat dengan daerah-daerah lain di kawasan Priangan Timur sehingga pengembangannya perlu dilakukan secara terpadu.
“Khusus untuk membahas tentang sejarah, budaya, dan pariwisata, kita jangan berbicara tentang wilayah administratif. Karena Tasikmalaya tidak bisa lepas dari wilayah-wilayah di seputaran Tasikmalaya, baik Kabupaten Tasik, Ciamis, Banjar, Pangandaran, dan Garut,” ujar Deddy Mulyana saat menghadiri kegiatan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Siliwangi di Kota Tasikmalaya, Mei 2026.
Ia menilai kerja sama dengan perguruan tinggi dan komunitas budaya menjadi langkah penting untuk memperkuat literasi sejarah masyarakat, terutama generasi muda. Melalui pendekatan akademik dan kegiatan publik, masyarakat diharapkan semakin mengenal perjalanan sejarah daerahnya serta memahami nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Bagaimana kita membuat suatu pola dan formulasi, bagaimana masyarakat Kota Tasikmalaya ini bisa mengenal bagaimana asal-usul sejarah yang ada di Tasikmalaya dan sekitarnya,” katanya.
Menurut Deddy, potensi sejarah dan budaya memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai produk wisata. Berbeda dengan sejumlah daerah lain di Priangan Timur yang memiliki banyak destinasi wisata alam, Kota Tasikmalaya perlu menghadirkan daya tarik melalui pengalaman wisata berbasis edukasi, budaya, dan cerita sejarah yang khas.
“Kota Tasik kebetulan kalau kita berpikir tentang wisata alam tidak banyak yang ada di Kota Tasikmalaya. Makanya kita berpikir bagaimana kita memikirkan destinasi-destinasi yang orang bisa datang,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Disporabudpar berencana memperbanyak penyelenggaraan festival budaya, pertunjukan seni, pameran sejarah, hingga berbagai agenda kreatif yang melibatkan masyarakat dan pelaku ekonomi kreatif. Event-event tersebut diharapkan mampu menarik wisatawan sekaligus menjadi ruang promosi bagi produk budaya dan UMKM lokal.
Pemerintah Kota Tasikmalaya juga berencana mengembangkan sejumlah destinasi yang telah ada, seperti kawasan Karang Resik dan objek wisata buatan lainnya, dengan menambahkan narasi sejarah dan budaya sebagai bagian dari pengalaman wisata. Pendekatan ini diharapkan memberikan nilai tambah sehingga wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati fasilitas, tetapi juga memperoleh pemahaman mengenai identitas dan perjalanan sejarah Tasikmalaya.
Pengembangan wisata berbasis sejarah dinilai memiliki manfaat yang lebih luas dibanding sekadar meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Selain mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pendekatan tersebut juga menjadi media pelestarian budaya di tengah arus modernisasi. Ketika sejarah dikenalkan melalui ruang publik dan destinasi wisata, masyarakat akan lebih mudah memahami sekaligus menjaga warisan yang dimiliki.
Kolaborasi dengan kalangan akademisi, seperti Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Siliwangi, juga membuka peluang lahirnya berbagai inovasi dalam penyajian sejarah kepada masyarakat. Penelitian, film dokumenter, pameran, hingga wisata edukasi dapat menjadi sarana untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan sektor pariwisata.
Di tengah persaingan antar daerah dalam menarik wisatawan, Kota Tasikmalaya memiliki peluang untuk membangun identitas sebagai kota yang menawarkan pengalaman wisata berbasis budaya dan sejarah. Keunikan tersebut dapat menjadi pembeda sekaligus memperkuat posisi Tasikmalaya dalam jaringan pariwisata Priangan Timur.
“Budaya dan sejarah ini jangan hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi harus menjadi kekuatan yang bisa menghidupkan pariwisata dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkas Deddy Mulyana.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa pelestarian sejarah bukan semata menjaga memori masa lalu. Ketika dikelola secara kolaboratif dan berkelanjutan, sejarah dan budaya dapat menjadi modal pembangunan yang menghadirkan manfaat ekonomi, memperkuat identitas daerah, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat terhadap warisan yang mereka miliki.
