Pasbar – Harapan yang dibawa pasien ke rumah sakit mendadak berubah menjadi kekecewaan. Di tengah kebutuhan akan pelayanan medis, sebagian besar poli di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasaman Barat justru tidak beroperasi pada Rabu (3/6/2026), meninggalkan banyak warga tanpa kepastian layanan kesehatan.
Situasi tersebut terjadi hampir di seluruh layanan spesialis. Berdasarkan pantauan di RSUD Pasaman Barat, hanya poli umum dan poli gigi yang masih membuka pelayanan. Sementara poli penyakit dalam, poli paru, poli mata, dan sejumlah layanan lainnya tidak melayani pasien. Kondisi itu membuat masyarakat yang datang dari berbagai wilayah di Pasaman Barat terpaksa pulang tanpa mendapatkan pemeriksaan yang dibutuhkan.
Perkumpulan Jurnalis Online Pasaman Barat (AJO Pasbar) turut melakukan peninjauan langsung ke rumah sakit tersebut. Tim yang dipimpin Ketua AJO Pasbar Muhammad Fadli bersama sejumlah pengurus mendatangi beberapa ruangan pelayanan guna memastikan kondisi yang terjadi di lapangan. Dari hasil pemantauan, sejumlah ruang poli tampak kosong dan tidak ada aktivitas pelayanan seperti biasanya.
“Kami sudah jauh-jauh datang, ternyata tidak ada pelayanan,” kata Ros (68), warga Silaping yang sejak subuh berangkat untuk menjalani pemeriksaan mata.
Kekecewaan serupa juga dirasakan Nurherawan (75), warga Parit Koto Balingka. Ia datang untuk mendapatkan layanan di poli penyakit dalam, namun harus menunggu tanpa kepastian karena pelayanan tidak dibuka.
“Karena tidak ada kepastian, kami mencari alternatif ke RS Ibnu Sina Yarsi Simpang Empat,” ujar anggota keluarga pasien tersebut.
Saat tim AJO Pasbar mendatangi poli penyakit dalam, seorang pegawai menyampaikan bahwa pelayanan memang tidak dibuka pada hari itu. Namun, ia mengaku tidak mengetahui alasan pasti penghentian layanan tersebut.
“Kami tidak tahu apa penyebabnya, kami hanya pegawai,” ujarnya singkat.
Sehari sebelumnya, Selasa (2/6/2026), diketahui para dokter RSUD Pasaman Barat mengikuti pertemuan bersama Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Pasaman Barat. Namun hingga Rabu (3/6/2026), belum ada keterangan resmi mengenai hasil pertemuan tersebut maupun kaitannya dengan terganggunya pelayanan di rumah sakit.
Di tengah situasi tersebut, keberadaan jajaran manajemen rumah sakit, khususnya yang membidangi pelayanan, juga menjadi sorotan. Sejumlah pihak mempertanyakan langkah penanganan yang dilakukan mengingat pelayanan kesehatan merupakan kebutuhan mendasar masyarakat.
Dampak penghentian layanan ini dirasakan langsung oleh pasien yang membutuhkan resep lanjutan dari dokter spesialis. Beberapa pasien dilaporkan tidak dapat memperoleh obat yang rutin dikonsumsi karena dokter yang menangani tidak membuka praktik di poli masing-masing. Kondisi itu dikhawatirkan dapat memengaruhi kesehatan pasien yang membutuhkan pengobatan berkelanjutan.
Peristiwa tersebut memunculkan desakan dari masyarakat agar manajemen RSUD Pasaman Barat segera memberikan penjelasan terbuka terkait penyebab terganggunya pelayanan. Transparansi dinilai penting untuk menghindari munculnya keresahan yang lebih luas di tengah masyarakat.
Selain itu, pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah agar pelayanan kesehatan di rumah sakit milik daerah tersebut kembali berjalan normal. Sebagai fasilitas rujukan utama bagi masyarakat Pasaman Barat, keberlangsungan pelayanan RSUD dinilai sangat penting untuk menjamin hak masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang memadai.
Kondisi yang terjadi pada Rabu (3/6/2026) menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya menyangkut sistem dan administrasi, tetapi juga menyangkut kebutuhan mendesak masyarakat yang menggantungkan harapan kesembuhan pada rumah sakit. Karena itu, pemulihan pelayanan secara cepat dan penjelasan yang transparan menjadi hal yang dinantikan warga.
