Bondowoso – Ada rasa yang tak pernah benar-benar pergi dari tempat seseorang tumbuh dan belajar. Bagi Ali Hasan Mun’im, kampung halaman bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan ruang yang membentuk perjalanan hidupnya. Momentum Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah menjadi pengingat akan ikatan itu saat tokoh muda Bondowoso yang akrab disapa AHM tersebut pulang ke Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Desa Padasan, Kecamatan Pujer, untuk menyerahkan seekor sapi kurban sebagai bentuk rasa syukur dan pengabdian.
Suasana haru dan kekeluargaan terasa menyelimuti lingkungan pesantren saat penyerahan hewan kurban berlangsung pada Selasa (26/5/2026). Kehadiran AHM bersama ayahandanya, H. Mashuri, menjadi momen yang penuh makna, mengingat pesantren tersebut merupakan tempat dirinya lahir, tumbuh besar, belajar ilmu agama, hingga pernah mengabdi sebelum menapaki perjalanan panjang di dunia profesional dan usaha.
Bagi AHM, ibadah kurban bukan sekadar agenda rutin tahunan, tetapi bagian dari refleksi perjalanan hidup. Ia mengaku, kesempatan berbagi di pesantren tempat dirinya pernah belajar menjadi simbol rasa terima kasih atas proses panjang yang telah membentuk dirinya hingga saat ini. Diketahui, AHM memulai perjalanan karier dari bawah sebagai pendamping masyarakat, kemudian dipercaya menjadi Komisioner KPU, hingga kini sukses mengembangkan berbagai sektor usaha.
Selain dikenal sebagai pengusaha di bidang budidaya lobster dan udang, AHM juga aktif mengelola sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG), program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Tak hanya itu, dirinya juga tercatat sebagai pengurus pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (HIPKA), memperluas kiprahnya di dunia usaha dan organisasi nasional.
“Alhamdulillah, di Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah ini saya masih diberikan rezeki dan kesempatan untuk berkurban. Ini menjadi bentuk rasa syukur saya kepada Allah SWT, sekaligus ikhtiar untuk terus berbagi dengan masyarakat dan pesantren tempat saya pernah belajar serta mengabdi,” ujar Ali Hasan Mun’im.
Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum, Kyai Ahmad Juwaini, menyampaikan apresiasi atas kepedulian AHM terhadap pesantren dan masyarakat di kampung halamannya. Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya bentuk ibadah kurban, tetapi juga cerminan penghormatan terhadap tempat yang pernah menjadi bagian penting perjalanan hidup seseorang.
“Alhamdulillah, kami bersyukur dan berterima kasih kepada Ali Hasan Mun’im yang tetap ingat kepada pesantren dan kampung halamannya. Ini bukan hanya soal kurban, tetapi bentuk kecintaan terhadap syiar Islam dan penghormatan kepada tempat beliau pernah belajar dan mengabdi,” tutur Kyai Ahmad Juwaini.
Hal serupa juga disampaikan H. Mashuri yang mengaku bersyukur melihat putranya tetap memegang nilai-nilai yang diajarkan sejak kecil. Menurutnya, lingkungan pesantren telah membentuk karakter AHM untuk terus berbagi dan menjaga kepedulian sosial di tengah kesibukan yang dijalani saat ini.
“Sebagai orang tua tentu saya sangat bersyukur. Dari kecil Ali dibesarkan di lingkungan pesantren dan diajarkan untuk selalu berbagi. Semoga kurban ini membawa berkah dan manfaat bagi masyarakat,” ungkap H. Mashuri.
Di tengah semangat Iduladha yang sarat makna pengorbanan dan keikhlasan, AHM berharap tradisi berbagi terus tumbuh di tengah masyarakat. Baginya, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari capaian pribadi, tetapi juga sejauh mana seseorang mampu memberi manfaat bagi lingkungan tempat ia berasal.
