Surabaya – Ruang ujian yang seharusnya menjadi arena adu kemampuan justru berubah menjadi celah permainan curang. Terbongkarnya dugaan sindikat joki UTBK-SNBT 2026 oleh Polrestabes Surabaya menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan nasional yang tengah berupaya menjaga integritas seleksi masuk perguruan tinggi.
Kasus tersebut mencuat setelah aparat kepolisian mengungkap jaringan perjokian ujian masuk perguruan tinggi yang diduga telah beroperasi lintas provinsi sejak 2017. Pengungkapan dilakukan Polrestabes Surabaya setelah menemukan indikasi praktik kecurangan yang terorganisasi dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2026.
Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, memberikan apresiasi terhadap langkah cepat kepolisian dalam membongkar praktik ilegal tersebut. Legislator daerah pemilihan Surabaya-Sidoarjo itu menilai tindakan tegas aparat menjadi langkah penting untuk menjaga kredibilitas sistem pendidikan nasional.
“Kami mengapresiasi dan mendukung Polrestabes Surabaya mengusut tuntas kasus ini agar integritas dunia pendidikan tetap terjaga,” ujar Reni Astuti pada Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, kasus joki UTBK bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi juga ancaman serius terhadap nilai kejujuran dan meritokrasi dalam pendidikan. Ia menilai praktik semacam itu menunjukkan masih adanya kelompok profesional yang memanfaatkan celah sistem demi keuntungan pribadi.
Reni juga menyebut pengungkapan kasus tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan pelaksanaan seleksi nasional. Dengan perkembangan teknologi dan pola kejahatan yang semakin kompleks, pengawasan dinilai perlu diperkuat agar peluang terjadinya kecurangan semakin kecil.
Selain mengapresiasi kepolisian, Komisi X DPR RI juga memberikan penghargaan kepada panitia SNBT yang dinilai berhasil mendeteksi peserta mencurigakan sejak tahap awal pelaksanaan ujian. Sistem pengawasan yang diterapkan dianggap cukup efektif dalam membantu aparat mengungkap jaringan pelaku.
Penanganan perkara secara terbuka dan transparan dinilai penting agar menimbulkan efek jera bagi pelaku lain yang mencoba melakukan praktik serupa. Langkah tegas juga diharapkan mampu mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri yang selama ini mengedepankan asas keadilan dan kemampuan akademik.
Sementara itu, Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Dr Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si mengungkapkan bahwa hasil penyelidikan sementara menunjukkan jaringan tersebut bekerja secara sistematis dengan pembagian peran yang terstruktur.
“Jaringan ini sangat rapi dan terstruktur di bawah kendali koordinator utama,” katanya.
Polisi menyebut para pelaku memiliki tugas berbeda, mulai dari perekrut peserta, penyedia joki, hingga pengatur teknis pelaksanaan ujian. Hingga saat ini, sebanyak 14 tersangka telah diamankan, sementara dua orang yang diduga menjadi aktor utama masih dalam pengejaran aparat kepolisian.
Terbongkarnya praktik joki UTBK-SNBT 2026 menjadi pengingat bahwa integritas pendidikan membutuhkan pengawasan dan komitmen bersama. Di tengah persaingan masuk perguruan tinggi yang semakin ketat, kejujuran tetap menjadi fondasi utama untuk menciptakan generasi yang berkualitas dan berdaya saing.
