Surabaya – Gejolak konflik di Timur Tengah ibarat bayang-bayang panjang yang kini merambah hingga ke ruang tunggu calon jemaah umrah. Kekhawatiran bukan lagi soal ibadah, melainkan perjalanan menuju Tanah Suci yang dipenuhi ketidakpastian.
Ketegangan antara Iran dan Israel yang meningkat hingga Rabu (25/03/2026) berdampak pada sektor penerbangan internasional. Hal ini turut dirasakan oleh calon jemaah umrah di Indonesia, khususnya di Surabaya. Gangguan penerbangan, termasuk penundaan dan pembatalan di sejumlah negara transit, membuat sebagian jemaah memilih menunda keberangkatan mereka.
Direktur Alfira Tour Travel Surabaya, Alfira (26), menyebut kondisi global saat ini berpengaruh besar terhadap psikologis calon jemaah, meskipun secara teknis perjalanan masih memungkinkan dilakukan.
“Banyak jemaah yang mulai khawatir, terutama karena adanya pembatalan dan penundaan penerbangan di beberapa negara transit,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dalam kondisi normal, pihaknya memberangkatkan sekitar 80 hingga 120 jemaah setiap bulan. Namun sejak konflik meningkat, sekitar 30 persen jemaah memilih menunda perjalanan karena mempertimbangkan faktor keamanan dan ketidakpastian jadwal penerbangan.
“Sebagian jemaah memilih menunggu situasi lebih kondusif, terutama yang menggunakan rute transit,” tambahnya.
Kekhawatiran tersebut dipicu oleh kondisi nyata di lapangan, di mana sejumlah penerbangan internasional mengalami gangguan akibat konflik. Beberapa wilayah udara di kawasan Timur Tengah juga sempat ditutup, sehingga memengaruhi jadwal penerbangan dari berbagai negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, kondisi di Tanah Suci dilaporkan tetap aman. Muthawif di Arab Saudi, Gian Perdian (27), memastikan bahwa aktivitas ibadah di Mekkah dan Madinah berjalan normal tanpa gangguan.
“Di Mekkah dan Madinah tetap kondusif. Tidak ada gangguan langsung di sini, jemaah tetap bisa beribadah dengan tenang,” jelasnya.
Namun, ia mengakui bahwa titik krusial yang menjadi kekhawatiran adalah perjalanan menuju Arab Saudi, khususnya bagi jemaah yang harus transit di negara-negara terdampak konflik.
“Yang jadi kekhawatiran itu perjalanan menuju ke sini, terutama kalau harus transit. Itu yang sering jadi kendala,” katanya.
Salah satu calon jemaah, Maimunah (45), juga merasakan dilema serupa. Ia mengaku sempat ragu untuk berangkat di tengah situasi global yang belum stabil.
“Saya sempat takut, apalagi lihat berita banyak penerbangan ditunda. Tapi setelah dijelaskan travel, saya jadi lebih tenang,” ujarnya.
Meski begitu, ia tetap mempertimbangkan kondisi keamanan sebelum mengambil keputusan akhir.
“Kalau memang aman dan bisa langsung, saya tetap berangkat. Tapi kalau masih berisiko, mungkin saya tunda dulu,” tambahnya.
Sejumlah biro perjalanan mengimbau calon jemaah agar tetap tenang, namun lebih cermat dalam memilih jadwal serta rute penerbangan. Menghindari jalur transit yang berpotensi terdampak konflik menjadi salah satu langkah antisipasi yang disarankan.
Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika geopolitik global tidak hanya berdampak pada sektor politik dan keamanan, tetapi juga menyentuh aspek spiritual masyarakat. Di tengah niat ibadah yang kuat, kehati-hatian tetap menjadi pertimbangan utama.
