Jember – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, denyut pasar tradisional di Kabupaten Jember terasa lebih panas dari biasanya. Bukan hanya karena antrean pembeli yang memadati lapak, tetapi juga lonjakan harga bahan pokok yang membuat dompet warga menjerit. Cabai rawit merah bahkan menembus Rp120 ribu per kilogram, sementara ayam potong menyentuh Rp42 ribu per kilogram.
Kenaikan harga ini terjadi pada Sabtu (21/2/2026), bertepatan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk persiapan awal puasa. Berdasarkan pantauan Dinas Koperasi, UMKM dan Ketahanan Pangan Jember terhadap 21 komoditas, tercatat 14 komoditas mengalami kenaikan harga, tiga komoditas stabil, dan sisanya justru turun. Daging sapi menjadi salah satu yang mengalami lonjakan signifikan, dari Rp120 ribu menjadi Rp135 ribu per kilogram.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Ketahanan Pangan Jember, Sartini, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri peringatan satu tahun kepemimpinan Bupati Jember di Pendopo WWG, Sabtu (21/2/2026).
“Hukum pasar yang berlaku. Kebetulan untuk awal puasa ini suplai barang berkurang dan yang berjualan juga berkurang. Ini sangat mempengaruhi. Ketika penjual sedikit dan suplai sedikit, otomatis harga akan melambung. Insyaallah mulai besok pedagang sudah mulai banyak lagi dan harga akan mulai stabil,” ujar Sartini.
Ia menambahkan, lonjakan harga cabai rawit merah juga dipengaruhi faktor cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan banyak tanaman cabai rusak bahkan mati, sehingga produksi menurun drastis.
“Kami lihat di lapangan banyak pohon cabai yang sudah mati. Hujan yang terus-menerus juga sangat mempengaruhi produksi. Banyak yang busuk,” jelasnya.
Selain faktor produksi, tingginya konsumsi masyarakat menjelang Ramadan turut mendorong kenaikan harga, khususnya pada komoditas daging. Tradisi memasak hidangan spesial saat sahur dan berbuka membuat permintaan meningkat tajam dalam waktu singkat.
“Menyambut Ramadan banyak orang membutuhkan daging. Otomatis akan ada kenaikan. Masyarakat mungkin datang ke pasar kaget, tapi kami tidak bisa mengendalikan hukum pasar. Ketika barang sedikit dan yang membutuhkan banyak, pasti mahal,” tambahnya.
Untuk mengantisipasi dampak lebih luas, pemerintah daerah melalui dinas terkait terus berkoordinasi dengan Satgas Pangan guna memastikan distribusi tetap berjalan dan mencegah praktik penimbunan. Sejumlah langkah strategis juga disiapkan, termasuk operasi pasar serta penyelenggaraan pasar murah agar masyarakat tetap bisa memperoleh bahan pokok dengan harga terjangkau.
Pemerintah berharap, seiring bertambahnya pedagang yang kembali berjualan serta membaiknya distribusi pasokan dalam beberapa hari mendatang, harga kebutuhan pokok di Jember dapat kembali stabil sebelum Ramadan benar-benar tiba.
Lonjakan harga pangan jelang Ramadan ini menjadi pengingat bahwa keseimbangan distribusi dan produksi sangat menentukan stabilitas pasar. Masyarakat pun diimbau berbelanja secara bijak agar gejolak harga tidak semakin tajam akibat lonjakan permintaan yang berlebihan. (ADV).
