Jember – Dinding rumah sakit tak lagi menjadi batas pelayanan. Dengan semangat menjemput bola, RSD dr. Soebandi Kabupaten Jember menggulirkan program sosial bertajuk “Hospital Without Wall” untuk menangani kasus stunting secara langsung di tengah masyarakat. Sebanyak 500 bayi dan balita stunting di Kecamatan Tanggul dan Jombang menjadi sasaran utama dalam gerakan kesehatan tersebut.
Program ini digagas sebagai respons atas berbagai kendala yang dihadapi keluarga balita stunting untuk mengakses layanan kesehatan. Mulai dari keterbatasan biaya, panjangnya antrean layanan, hingga stigma sosial yang kerap melekat pada istilah stunting, membuat sebagian orang tua enggan membawa anaknya berobat ke rumah sakit. Melalui pendekatan jemput bola, tim medis diterjunkan langsung ke rumah-rumah warga guna memastikan intervensi gizi berjalan efektif.
Pelaksana Tugas Direktur RSD dr. Soebandi, Nyoman Semita, mengungkapkan bahwa pihaknya mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,8 miliar untuk mendukung program tersebut, khususnya dalam penyediaan susu formula bagi para balita penerima manfaat.
“Kami menganggarkan Rp 1,8 miliar untuk pengadaan susu formula bagi 500 balita stunting di Tanggul dan Jombang. Ini bagian dari komitmen kami untuk turun langsung membantu masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selama tiga bulan pelaksanaan program, setiap balita menerima 24 kotak susu formula yang disalurkan secara bertahap. Dari total 500 penerima, sekitar 200 balita berada di Kecamatan Jombang dan 300 balita lainnya di Kecamatan Tanggul. Penyaluran dilakukan dengan pengawasan ketat agar bantuan benar-benar dikonsumsi sesuai anjuran medis.
Tim yang diterjunkan tidak hanya terdiri atas dokter dan perawat, tetapi juga melibatkan bidan, dokter muda, anggota Dharma Wanita, kader posyandu, hingga Babinsa TNI. Kolaborasi lintas unsur ini dinilai penting untuk memastikan pendampingan berjalan menyeluruh, mulai dari edukasi gizi hingga pemantauan tumbuh kembang anak.
Menurut Nyoman, persoalan stunting tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan. Ada sejumlah faktor medis yang turut memengaruhi kondisi tersebut, seperti bayi lahir prematur, kelainan jantung bawaan, hingga komplikasi saat persalinan.
“Stunting tidak semata-mata karena faktor ekonomi. Banyak kasus dipicu kondisi medis sejak lahir, sehingga membutuhkan intervensi khusus dan pendampingan intensif,” jelasnya.
Meski bantuan susu telah disalurkan, tantangan tetap muncul di lapangan. Tidak sedikit balita yang kurang rutin mengonsumsi susu sesuai anjuran, sehingga hasil yang diharapkan belum optimal. Karena itu, keterlibatan kader posyandu dan perangkat lingkungan menjadi kunci dalam memastikan kepatuhan konsumsi serta edukasi kepada orang tua.
Pihak rumah sakit menargetkan setidaknya 80 persen dari total 500 balita penerima bantuan dapat keluar dari kondisi stunting setelah program berjalan selama tiga bulan. Evaluasi berkala akan dilakukan untuk mengukur efektivitas intervensi serta menentukan langkah lanjutan yang diperlukan.
Program “Hospital Without Wall” ini diharapkan menjadi model inovasi layanan kesehatan berbasis komunitas di Kabupaten Jember. Dengan pendekatan langsung ke rumah warga, upaya penurunan angka stunting tidak hanya menjadi slogan, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata dan kolaborasi lintas sektor.
Upaya ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dan rumah sakit dalam mempercepat penanganan stunting, demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan. (ADV).
