Jember – Ibarat gerak cepat memadamkan api sebelum membesar, Kecamatan Jenggawah tancap gas menjalankan Program Jember Cinta Kesehatan Ibu dan Anak. Sebanyak 1.200 tenaga kesehatan (nakes) diterjunkan langsung ke lapangan untuk menyisir wilayah, memastikan ibu hamil serta balita berisiko stunting terdata dan mendapat penanganan sedini mungkin.
Langkah ini dilakukan Pemerintah Kecamatan Jenggawah sebagai tindak lanjut instruksi Bupati Jember. Fokus utama program adalah menemukan ibu hamil dengan risiko tinggi serta bayi dan balita yang mengalami atau berpotensi mengalami stunting. Mereka kemudian diarahkan ke puskesmas untuk pemeriksaan lanjutan serta pencatatan resmi dalam Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Kegiatan tersebut ditegaskan dalam rapat koordinasi bersama para tenaga kesehatan di aula Puskesmas Jenggawah, Kamis (19/2/2026).
“Penerjunan 1.200 tenaga kesehatan ini salah satu tujuan utamanya adalah menemukan ibu hamil dan bayi balita stunting, kemudian dibawa ke puskesmas untuk diperiksa dan dicatat dalam Buku KIA,” ujar Soetjahyo.
Camat Jenggawah itu menjelaskan bahwa pencatatan dilakukan dalam dua bentuk, yakni dokumen fisik yang dipegang ibu hamil serta sistem digital yang dikirim kepada dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak. Data tersebut nantinya dianalisis untuk menentukan tingkat risiko dan penanganan yang tepat.
Menurut Soetjahyo, melalui pendataan terintegrasi ini akan diketahui klasifikasi kondisi ibu hamil dan balita, termasuk faktor penyebab stunting, apakah karena penyakit tertentu, faktor kecelakaan, atau persoalan gizi kronis. Dengan data yang terukur, intervensi dapat dilakukan lebih tepat sasaran dan terkoordinasi.
Program Jember Cinta Kesehatan Ibu dan Anak merupakan bagian dari kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember dalam menekan angka stunting serta Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI–AKB). Pola kerja yang kini diterapkan bersifat satu komando lintas sektor, menyatukan peran tenaga kesehatan, penyuluh keluarga berencana, camat, pemerintah desa, hingga unsur TNI dan Polri dalam satu gerakan terpadu.
Bupati Jember, Muhammad Fawait, sebelumnya menyebut persoalan kesehatan ibu dan anak di daerahnya sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Kabupaten Jember kerap masuk jajaran tertinggi angka stunting serta AKI–AKB di Jawa Timur. Kondisi inilah yang mendorong pembentukan Satuan Tugas Pencegahan Stunting, AKI, dan AKB sebagai motor penggerak percepatan penanganan.
Evaluasi atas program ini direncanakan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan. Penurunan angka stunting dan AKI–AKB akan menjadi indikator utama keberhasilan kinerja organisasi perangkat daerah (OPD), camat, hingga kepala puskesmas. Jika capaian belum sesuai target, maka strategi intervensi akan disesuaikan berdasarkan hasil analisis data lapangan.
Dengan gerakan serentak dan berbasis data ini, Pemerintah Kabupaten Jember berharap angka stunting dan kematian ibu serta bayi dapat ditekan secara signifikan. Upaya ini bukan sekadar program administratif, melainkan investasi jangka panjang demi melahirkan generasi sehat dan berkualitas di masa depan. (Adv).
