Mojokerto – KH Bimo Agus Sunarno, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Segoro Agung di Trowulan, Mojokerto, tengah membangun sistem pertanian mandiri sebagai bentuk ketahanan pangan pesantren. Lahan pertanian seluas 8 hektare digunakan untuk menanam berbagai komoditas yang menopang langsung kebutuhan konsumsi harian ribuan santri.
Upaya ini melibatkan penanaman tomat, timun, kubis, daun pre (daun bawang), terong, bawang merah, jagung manis, serta buah-buahan seperti semangka, melon, dan pisang cavendis. Seluruh hasil panen disalurkan ke dapur umum pondok guna mencukupi kebutuhan nutrisi santri secara berkelanjutan. Selain itu, hasil pertanian juga untuk menyulai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Segoro Agung.
Menurut KH Bimo, ketergantungan pada pasokan luar tidak cukup menjamin keberlangsungan dapur pesantren. Karena itu, ia menekankan pentingnya kemandirian pangan sebagai bagian dari pendidikan karakter santri.
“Kalau kita bisa makan dari apa yang kita tanam, di situlah keberkahan ilmu bisa tumbuh sempurna,” ujar KH Bimo saat ditemui pada Senin (10/2/2026).
Keterlibatan santri dalam pertanian juga menjadi bagian dari proses pendidikan holistik. Mereka dijadwalkan secara bergilir untuk menanam, merawat, dan memanen tanaman, sekaligus belajar mengelola hasil panen dengan bijak agar tidak terbuang sia-sia.
Sistem manajemen pangan yang terintegrasi ini terbukti mampu menekan biaya operasional pondok, sekaligus menanamkan nilai-nilai kerja keras dan tanggung jawab kepada santri. Selain itu, program ini juga mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari pasar yang sering kali tidak stabil.
Keberhasilan model ini telah menarik perhatian pesantren lain di Jawa Timur. Pemerintah daerah Mojokerto bahkan menyebut Pesantren Segoro Agung sebagai salah satu pionir dalam pengembangan pesantren berbasis ketahanan pangan dan menyatakan dukungannya terhadap perluasan program tersebut.
Dengan semangat keberlanjutan, Pondok Pesantren Segoro Agung kini menjelma menjadi “lumbung hidup” – tempat bersandingnya nilai agama, kemandirian pangan, dan pendidikan karakter dalam satu kesatuan.
