Jember – Seperti membuka tirai yang selama ini hanya terlihat dari kejauhan, ribuan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Jember kini diajak menyentuh langsung denyut kehidupan masyarakat miskin. Bukan sekadar rutinitas administratif, langkah ini menjadi upaya menyelami realitas yang kerap tersembunyi di balik angka-angka statistik.
Pemerintah Kabupaten Jember mengerahkan sekitar 22 ribu ASN untuk melakukan verifikasi dan validasi (verval) data warga miskin kategori Desil 1. Berdasarkan data Dinas Sosial, terdapat sekitar 97 ribu warga yang menjadi sasaran kegiatan ini. Program berlangsung mulai Jumat (18/4/2026) hingga Kamis (24/4/2026), dengan kemungkinan perpanjangan waktu. Setiap ASN ditugaskan memverifikasi tiga hingga lima warga, bahkan dengan lokasi yang tidak selalu sesuai domisili mereka.
“Ini bukan sekadar soal data. ASN harus melihat sendiri bagaimana kondisi warga, sehingga tumbuh empati dan kepedulian,” ujar Penjabat Sekretaris Daerah Jember, Akhmad Helmi Luqman.
Menurut Helmi, pendekatan ini sengaja dirancang agar ASN tidak hanya bekerja di balik meja, tetapi benar-benar memahami kondisi sosial masyarakat yang mereka layani. Bahkan, sejumlah ASN harus bertugas lintas kecamatan demi pemerataan tanggung jawab dan pengalaman lapangan. Ia sendiri mengaku mendapat penugasan di wilayah Sumberjambe, meskipun berdomisili di kawasan perkotaan.
“Kami ingin ASN merasakan langsung kondisi di lapangan, bukan hanya membaca laporan. Dari situ akan muncul sensitivitas sosial yang lebih kuat,” tambahnya.
Pengalaman serupa dirasakan oleh Lurah Antirogo, Teguh Tri Laksono, yang mendapat tugas di beberapa kecamatan berbeda seperti Mumbulsari, Pakusari, hingga Silo. Ia menilai penugasan lintas wilayah justru memberikan perspektif baru tentang keragaman kondisi masyarakat.
“Kami jadi benar-benar melihat langsung kondisi warga di berbagai daerah. Ini pengalaman yang membuka mata,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas data kemiskinan, tetapi juga membangun rasa empati dan kesadaran sosial di kalangan ASN.
“Dengan turun langsung, kita lebih memahami kondisi masyarakat. Ini juga menjadi pengingat bahwa masih banyak warga yang membutuhkan perhatian lebih,” ujarnya.
Pelaksanaan verval dilakukan secara fleksibel di luar jam kerja, baik setelah jam kantor maupun saat hari libur. Meski memungkinkan untuk diwakilkan, setiap ASN tetap bertanggung jawab atas pelaporan melalui akun masing-masing. Sistem ini diharapkan menjaga akuntabilitas sekaligus memastikan data yang dikumpulkan tetap valid.
Program ini juga dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat peran ASN sebagai pelayan masyarakat. Selama ini, sebagian besar pekerjaan ASN cenderung administratif, sehingga interaksi langsung dengan masyarakat terbatas. Melalui kegiatan ini, ASN diingatkan kembali pada esensi tugas mereka.
“Selama ini kita banyak bekerja di balik meja. Lewat kegiatan ini, kita diingatkan kembali bahwa tugas utama ASN adalah melayani masyarakat,” ujar Teguh.
Dengan pendekatan yang lebih humanis ini, Pemerintah Kabupaten Jember berharap dapat menghasilkan data kemiskinan yang lebih akurat sekaligus membentuk karakter ASN yang lebih peduli, responsif, dan hadir di tengah masyarakat. Program ini tidak hanya menjadi upaya teknis pembaruan data, tetapi juga langkah strategis dalam membangun birokrasi yang lebih berempati.
Pada akhirnya, verval ini bukan sekadar soal angka, melainkan tentang menghadirkan negara lebih dekat dengan warganya yang paling membutuhkan. (ADV).
