Jakarta – Rumah Sakit (RS) Yarsi Jakarta mengonfirmasi bahwa mereka telah memulangkan enam siswa SMAN 72 Jakarta yang menjadi korban ledakan di sekolah tersebut pada Jumat (7/11/2025). Direktur Utama RS Yarsi, dr. Mulyadi Muchtiar, menjelaskan bahwa keenam siswa tersebut telah selesai menjalani perawatan dan pemeriksaan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) serta audiometri.
Beberapa dari mereka juga menerima terapi lanjutan dengan menggunakan Hyperbaric Oxygen, yang berguna untuk mempercepat proses penyembuhan dan mengurangi dampak luka akibat ledakan.
“Sampai saat ini, sudah ada enam pasien yang dipulangkan setelah menjalani perawatan. Sebagian dari mereka juga melanjutkan terapi dengan Hyperbaric Oxygen, dan yang lainnya melanjutkan rawat jalan,” kata Mulyadi kepada Kompas.com pada Minggu (16/11/2025).
Namun, satu siswa yang mengalami luka bakar parah dan trauma pada bagian perut masih dirawat intensif di ruang perawatan khusus di RS Yarsi. Pasien ini dirawat di ruang intensive care dengan tekanan positif untuk mencegah infeksi, mengingat kondisi tubuh yang rentan terhadap penularan penyakit.
“Meskipun sebagian besar korban telah dipulangkan, masih ada satu pasien yang dirawat di ICU. Pasien ini mengalami luka bakar serius dan trauma pada perut, dan kami terus memantau perkembangannya,” jelas Mulyadi. Ia menambahkan, jika kondisinya stabil, pasien akan dipindahkan ke ruangan perawatan biasa, namun kunjungan akan dibatasi untuk menjaga daya tahan tubuh pasien yang masih lemah.
Ledakan yang terjadi di Masjid SMAN 72 Jakarta pada pukul 12.15 WIB itu mengakibatkan sekitar 96 orang terluka, termasuk siswa dan guru yang tengah melaksanakan salat Jumat.
Ledakan tersebut diduga dipicu oleh salah satu siswa yang menjadi korban perundungan (bullying) di sekolah. Pihak Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya mengungkapkan bahwa pelaku ledakan adalah siswa aktif di SMAN 72, yang bertindak sendirian dan tidak ada kaitannya dengan jaringan terorisme.
Kapolda Metro Jaya Irjen Asep Edi Suheri menegaskan bahwa tindakan pelaku merupakan tindakan individu yang tidak melibatkan kelompok teroris mana pun. “Tindakan ini dilakukan secara mandiri oleh pelaku, tanpa ada hubungan dengan jaringan teror tertentu,” ujar Asep.
Pihak sekolah juga telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang, dengan memastikan kegiatan belajar-mengajar dapat kembali berjalan dengan aman. Selain itu, pendampingan psikologis juga diberikan kepada para siswa yang terdampak kejadian ini.
