Surabaya – Tongkat estafet kepemimpinan Syarikat Islam (SI) memasuki babak baru. Organisasi bersejarah yang memiliki akar kuat dalam perjuangan kebangsaan Indonesia itu menetapkan Menteri Koperasi Ferry Juliantono sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam untuk masa jihad 2026–2031. Sementara itu, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Hamdan Zoelva dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Syar’i atau Dewan Syuro Syarikat Islam.
Penetapan kepemimpinan baru tersebut menjadi salah satu hasil penting Kongres Nasional Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 yang berlangsung di Surabaya, Jawa Timur, pada 17–20 Oktober 2026. Kongres ini bukan sekadar forum pergantian pengurus, melainkan momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran Syarikat Islam dalam menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan kebangsaan.
Terpilihnya Ferry Juliantono membawa harapan baru bagi penguatan gerakan ekonomi kerakyatan. Sosok yang juga menjabat Menteri Koperasi tersebut dikenal aktif mendorong pengembangan koperasi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat. Dengan pengalaman di pemerintahan dan organisasi, Ferry diharapkan mampu menerjemahkan gagasan dakwah ekonomi Syarikat Islam menjadi program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Hamdan Zoelva yang sebelumnya memimpin Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam kini menempati posisi strategis dalam struktur organisasi. Pengalamannya di bidang hukum, konstitusi, dan kepemimpinan organisasi diharapkan menjadi kekuatan dalam menjaga arah perjuangan Syarikat Islam agar tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Kepastian mengenai kepemimpinan baru tersebut juga disampaikan melalui ucapan selamat Ketua Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam demisioner, Hilman Ismail Metareum, yang berharap Ferry Juliantono dan Hamdan Zoelva mampu membawa organisasi semakin maju serta menjalankan dakwah ekonomi secara inklusif dan berkelanjutan.
Kongres ke-42 Syarikat Islam mengangkat tema “Dakwah Ekonomi Menuju Kemerdekaan Sejati”. Tema tersebut mencerminkan tekad organisasi untuk melanjutkan perjuangan para pendirinya, terutama dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat melalui penguatan kelembagaan, pemberdayaan usaha, serta pemerataan kesempatan ekonomi.
Dalam rangkaian kongres, Ferry Juliantono menegaskan pentingnya menggerakkan seluruh jaringan organisasi untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan ekonomi, termasuk kemiskinan dan praktik pinjaman ilegal yang merugikan warga.
“Kami aktifkan seluruh cabang untuk membebaskan masyarakat dari jeratan pinjaman ilegal, memberikan bantuan pangan, serta menyelesaikan masalah warga yang miskin,” kata Ferry seusai pembukaan Kongres Nasional Majelis Tahkim ke-42 di Surabaya, Minggu (18/10/2026).
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa arah perjuangan Syarikat Islam ke depan tidak hanya bertumpu pada penguatan struktur organisasi. Lebih jauh, gerakan ini diarahkan untuk menghadirkan solusi ekonomi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya pelaku usaha mikro, pedagang kecil, dan kelompok ekonomi rentan.
Dalam agenda kongres, Syarikat Islam juga menempatkan lima pilar sebagai landasan penguatan ekonomi umat, yakni pengembangan ekonomi syariah, koperasi, zakat dan wakaf, ekologi serta keberlanjutan, dan kewirausahaan umat.
Melalui lima pilar tersebut, organisasi diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan, meningkatkan produktivitas usaha masyarakat, serta mendorong lahirnya ekosistem ekonomi yang lebih mandiri. Pengembangan koperasi berbasis pesantren, masjid, dan komunitas menjadi salah satu pendekatan yang didorong untuk memperkuat perekonomian dari tingkat akar rumput.
Bagi Syarikat Islam, gagasan kemandirian ekonomi bukanlah sesuatu yang baru. Sejak masa awal pergerakan nasional, organisasi yang memiliki hubungan sejarah erat dengan H.O.S. Tjokroaminoto ini telah menempatkan aktivitas perdagangan dan kekuatan ekonomi rakyat sebagai bagian penting dari perjuangan.
Karena itu, penyelenggaraan kongres di Surabaya memiliki makna historis tersendiri. Kota Pahlawan pernah menjadi salah satu pusat penting perjalanan Syarikat Islam, termasuk ketika organisasi tersebut menggelar kongres pada Januari 1913 yang dihadiri ribuan peserta.
Hamdan Zoelva sebelumnya menegaskan bahwa kemerdekaan bangsa harus memiliki makna lebih luas daripada sekadar terbebas dari penjajahan politik. Menurutnya, kedaulatan ekonomi merupakan bagian penting dari cita-cita kemerdekaan yang perlu terus diperjuangkan.
“Kita berkomitmen dari Surabaya untuk membangkitkan semangat kembali untuk sampai kepada kemandirian, kedaulatan ekonomi dan menuju kepada kemerdekaan sejati,” ujar Hamdan dalam pembukaan kongres, Minggu (18/10/2026).
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah berbagai tantangan perekonomian nasional, mulai dari kesenjangan akses permodalan, ketergantungan terhadap produk impor, hingga kebutuhan memperkuat daya saing pelaku usaha kecil dan menengah.
Kehadiran Ferry Juliantono sebagai pemimpin baru Syarikat Islam juga membuka peluang penguatan sinergi antara gerakan masyarakat dan program pemberdayaan ekonomi. Meski demikian, keberhasilan kepemimpinannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan organisasi mengubah keputusan kongres menjadi langkah nyata yang terukur dan berkelanjutan.
Di sisi lain, peran Hamdan Zoelva sebagai Ketua Dewan Syuro diharapkan mampu memperkuat kesinambungan nilai, arah kebijakan, serta soliditas internal organisasi. Kolaborasi kedua tokoh tersebut menjadi perhatian karena mempertemukan pengalaman pemerintahan, kepemimpinan organisasi, dan pemahaman konstitusional dalam satu kepengurusan.
Pergantian kepemimpinan ini sekaligus menjadi ujian bagi Syarikat Islam dalam membuktikan relevansinya di tengah perkembangan zaman. Organisasi tidak hanya dituntut menjaga warisan sejarah perjuangan, tetapi juga menghadirkan pembaruan yang menjawab kebutuhan generasi muda dan masyarakat luas.
Dengan ditetapkannya Ferry Juliantono sebagai Presiden Lajnah Tanfidziyah dan Hamdan Zoelva sebagai Ketua Dewan Syuro untuk masa jihad 2026–2031, Syarikat Islam memasuki periode kepemimpinan baru yang membawa harapan besar. Kini, perhatian tertuju pada bagaimana semangat dakwah ekonomi dan kemandirian umat diwujudkan melalui program nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kontribusi Syarikat Islam bagi bangsa Indonesia.
