Kota yang terkubur ini tidak terlihat mencolok di permukaan. Di antara kebun tebu dan desa-desa kecil Mojokerto, terdapat Trowulan—wilayah yang diyakini sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit, kerajaan terbesar Nusantara pada abad ke-13 hingga 15. Namun Trowulan bukan sekadar kenangan; ia kini menjadi kawasan cagar budaya yang menyimpan sejarah dalam setiap lapisan tanahnya.
Di permukaan, yang terlihat hanyalah rumah-rumah warga, sekolah, dan ladang. Namun penelitian arkeologi menunjukkan, di bawah tanah itulah terbentang sisa-sisa kota megah. Ditemukan struktur jalan kuno, parit, pondasi bangunan, dan bata merah berusia ratusan tahun. Ini menunjukkan bahwa dahulu, Trowulan adalah pusat pemerintahan yang luas dan tertata.
“Penelitian menunjukkan bahwa sebaran situs tidak lagi utuh, namun bekas‑bekas tata ruang Majapahit masih terbaca,”
ungkap hasil studi kawasan oleh Yayasan Arsari Djojohadikusumo.
Trowulan tidak ditata ulang sebagai kota modern, namun dijaga agar tetap menjadi ruang hidup yang menyatu antara masa lalu dan masa kini. Warga tinggal berdampingan dengan situs sejarah yang muncul sewaktu-waktu saat menggali sumur atau menanam pohon.
Gapura Wringin Lawang, dipercaya sebagai gerbang kerajaan, berdiri megah di tepi jalan desa. Candi Bajang Ratu menampilkan ukiran halus, simbol kebesaran budaya masa itu. Sementara Candi Tikus, petirtaan unik, mencerminkan kecanggihan pengelolaan air yang luar biasa. Candi Brahu disebut sebagai tempat berlangsungnya upacara keagamaan.
Situs-situs ini bukan sekadar objek wisata, melainkan “fragmen sejarah” yang menyusun gambaran besar ibu kota Majapahit.
Namun ada tantangan besar: bagaimana melindungi warisan ini tanpa mengganggu kehidupan warga? Trowulan bukan museum, melainkan komunitas aktif dengan aktivitas harian. Sebagian situs terancam tergusur oleh pembangunan, industri bata, atau konversi lahan.
Karenanya, manajemen kawasan menjadi penting agar pelestarian dan kehidupan modern bisa berjalan seimbang. Pemerintah, masyarakat, dan wisatawan harus saling mendukung agar Trowulan tetap menjadi sumber pengetahuan dan identitas budaya.
Bagi pelajar dan peneliti, Trowulan adalah laboratorium terbuka. Di sini, sejarah tidak hanya dibaca, tapi dilihat dan dirasakan langsung. Fragmen bata, genteng pecah, kanal tua—semuanya menjadi “teks” yang bisa diinterpretasi.
Trowulan menunjukkan bahwa kejayaan tidak selalu hadir dalam bentuk megah. Kadang, ia bersemayam dalam kesederhanaan: dalam batu bata tua, dalam struktur yang nyaris hilang, dan dalam cerita warga yang menjaganya.
