Kuala Lumpur – Dunia tengah berguncang oleh rivalitas kekuatan besar, dari perang dagang Amerika Serikat–China hingga konflik di Ukraina dan Timur Tengah. Dalam situasi ini, ASEAN menghadapi tekanan besar untuk tetap relevan. Kawasan Asia Tenggara, meski terlihat damai, berada di persimpangan ketegangan global.
Sebagai pendiri utama ASEAN, Indonesia memainkan peran penting. Politik luar negeri bebas aktif dijalankan sebagai strategi seimbang: tidak berpihak pada blok mana pun, namun aktif mendorong perdamaian. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia siap menjadi jembatan dialog, bukan alat kepentingan negara besar.
“Indonesia akan terus menyalakan nilai-nilai Pancasila sebagai kompas moral diplomasi kawasan,” ujar Prabowo saat menghadiri KTT ASEAN–Jepang di Kuala Lumpur, Ahad (26/10/2025).
ASEAN didirikan tahun 1967 dengan semangat solidaritas, namun kini harus menyesuaikan diri dengan tantangan baru. Strategi lama seperti non-intervensi dan konsensus mulai dirasa kurang efektif di era konflik multidimensi. Organisasi ini berupaya memperkuat sentralitas kawasan melalui forum seperti ARF, EAS, dan ADMM+ sebagai sarana mendorong dialog damai antar negara besar.
Sementara itu, isu konflik di Laut Cina Selatan dan ketegangan ekonomi global menjadi ujian nyata bagi solidaritas ASEAN. Dengan mengedepankan hukum internasional seperti UNCLOS 1982, ASEAN ingin membuktikan bahwa ia bukan hanya forum, tetapi komunitas nilai yang menjunjung stabilitas dan keadilan.
Dalam aspek ekonomi, kerja sama regional seperti RCEP dan AEC diharapkan memperkuat ketahanan kawasan. ASEAN juga harus responsif terhadap isu-isu kontemporer seperti keamanan siber, perubahan iklim, dan energi terbarukan, karena ancaman global kini lebih kompleks dari sekadar militer.
Bagi Indonesia, kekuatan diplomasi harus ditopang ekonomi dan pertahanan yang tangguh. Pemerintah terus mendorong pembangunan berbasis maritim, energi, dan digital untuk memperkuat daya saing nasional. Diplomasi kemanusiaan juga terus dijalankan, termasuk dalam isu Palestina dan krisis Myanmar.
Jika strategi ini dijalankan secara konsisten, ASEAN dan Indonesia diyakini mampu menjaga kedaulatan kawasan dan menjadi penyeimbang dalam dinamika global yang terus berubah.
