Sidoarjo – Suasana duka masih menyelimuti Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, setelah insiden runtuhnya bangunan mushola yang menelan korban santri. Di tengah proses evakuasi yang masih berlangsung hingga hari kelima, cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratus Syech K.H. Hasyim Asy’ari, yakni K.H. Mochamad Irfan Yusuf Hasyim, datang langsung ke lokasi untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga besar pesantren dan para wali santri yang menunggu kabar anak-anak mereka.
Kedatangan Gus Irfan—sapaan akrab K.H. Irfan Yusuf—pada Jumat malam (3/10/2025) disambut haru oleh para pengasuh dan keluarga korban. Ia meninjau langsung lokasi runtuhan, rumah pengasuh pesantren, serta posko Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menjadi pusat koordinasi evakuasi. Bersama dirinya turut hadir DR Mohammad As Abdul Anam dan Ketua PCNU Sidoarjo, K.H. Zainal Abidin.
Dalam kesempatan itu, Gus Irfan menegaskan bahwa kehadirannya merupakan bentuk empati dan dorongan semangat bagi para keluarga korban.
“Jadi kedatangan ke sini untuk memberikan dukungan, support, sekaligus semangat kepada keluarga besar Ponpes Al-Khoziny. Kami juga ingin memberi penguatan kepada orang tua santri yang mungkin sudah tidak sabar menunggu kepastian tentang putranya,” ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat agar tetap sabar menanti hasil pencarian yang dilakukan oleh tim gabungan. “Proses evakuasi ini tidak mudah dan tidak cepat, bisa memakan waktu dua sampai tiga hari. Mohon bersabar, insyaallah semuanya sudah ditangani oleh orang-orang yang ahli dan tepat. Pemerintah provinsi juga sudah luar biasa memberikan dukungan penuh untuk kelancaran proses ini,” tutur Gus Irfan.
Sementara itu, di posko Ante Mortem Bid Dokkes Polda Jawa Timur, para orang tua santri masih terus berdatangan untuk menyerahkan data dan ciri-ciri anak mereka. Abdullah, salah satu orang tua asal Krembangan Jaya Selatan, Surabaya, tampak menahan tangis saat memberikan informasi mengenai anaknya, Muhammad Rehan Jamil (14), yang hingga kini belum ditemukan.
“Datang ke sini untuk melaporkan dan menyerahkan data anak saya. Harapannya cepat ditemukan, kalau pun tidak tertolong semoga segera bisa dimakamkan,” ucapnya lirih.
Tragedi yang menimpa Ponpes Al-Khoziny ini menjadi ujian berat bagi keluarga besar pesantren dan masyarakat sekitar. Kehadiran tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama seperti Gus Irfan di tengah duka mendalam menjadi penguat spiritual dan moral bagi para korban yang sedang berjuang menghadapi kehilangan.
