Jember – Alun-Alun Jember Nusantara pada Sabtu siang berubah menjadi lautan warna, bunyi, dan gerak. Hari kedua rangkaian Jember Fashion Carnival (JFC) ke-23 menghadirkan Wonderful Archipelago Carnival Indonesia (WACI), karnaval budaya nasional yang memukau ribuan penonton. Berbagai daerah dari Sabang hingga Wakatobi memamerkan kekayaan tradisi masing-masing, menegaskan bahwa perbedaan adalah sumber kekuatan bangsa.
Tahun ini menjadi catatan bersejarah bagi Jember. Hampir seluruh kabupaten, kota, dan provinsi di Indonesia ikut berpartisipasi aktif, membuktikan posisi JFC sebagai pusat kreativitas karnaval dan wadah kolaborasi budaya terbesar di tanah air. Rute karnaval dimulai dari Alun-Alun Jember Nusantara dan berakhir di Kota Cinema Mall, dengan rangkaian penampilan busana, musik, dan tarian tradisional hingga kontemporer.
Ketua Umum Asosiasi Karnaval Indonesia, David K. Susilo, dalam sambutannya memberikan penghormatan khusus kepada almarhum Dynand Faris, pendiri JFC.
“Almarhum Mas Dynand Faris melahirkan dua organisasi besar. Tahun 2003, beliau menggagas Yayasan Jember Fashion Carnival. Kemudian di tahun 2013, mendirikan Asosiasi Karnaval Indonesia. Gagasannya adalah wujud kontribusi beliau bagi bangsa dan negara yang sangat beliau cintai,” ujar David.
Ia menegaskan, tahun ini menjadi momen pertama asosiasi mengangkat kearifan lokal dari masyarakat adat Nusantara. Dua komunitas tampil, yaitu pelaku adat dan pelaku karnaval kontemporer, yang disatukan dalam satu parade. “Proses ini butuh waktu, tetapi maksud kami jelas yaitu memperkenalkan budaya Indonesia melalui parade, sekaligus menanamkan identitas budaya itu kepada generasi muda,” tambahnya.
Utusan Kepresidenan Bidang Pariwisata, Zita Anjani, turut mengapresiasi peran Jember sebagai tuan rumah karnaval berskala nasional.
“Hari ini kita merayakan keberagaman dalam keindahan, menyambut HUT ke-80 RI dengan cara paling mempesona melalui WACI. Ini bukan sekadar karnaval, tapi catwalk identitas bangsa. Indonesia punya berjuta warna, berjuta warisan, dan berjuta potensi,” kata Zita.
Ia menggambarkan, dari Sabang hingga Wakatobi, setiap daerah berhasil mengubah warisan budaya menjadi karya seni yang relevan dan memikat. Menurutnya, hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo untuk membangun ketahanan pariwisata yang tidak hanya bertahan, tetapi juga berinovasi.
WACI 2025 menjadi bukti bahwa karnaval mampu melampaui batas hiburan. Di tangan para pelaku seni, parade ini menjadi ajang diplomasi budaya, pemantik kebanggaan nasional, dan motor penggerak pariwisata. Jember pun kembali mengukuhkan diri sebagai ikon karnaval dunia yang merangkai persatuan Indonesia dalam satu panggung raksasa kreativitas. (ADV).
