Ikon kuliner pagi di Kutai Timur tak lain adalah Nasi Kuning Samarinda yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat lokal. Meskipun nasi kuning tersebar luas di berbagai daerah Indonesia, versi Samarinda—yang juga populer di Sangatta dan sekitarnya—memiliki karakter unik yang sulit ditandingi.
Menu sarapan ini dikenal dengan nasi berwarna kuning cerah karena kunyit, disertai aroma harum santan yang menggoda. Keistimewaan kuliner ini terletak pada beragam lauknya seperti ayam cincane berbumbu pekat, sambal goreng hati ampela, serundeng kelapa, telur balado, ikan asin, hingga sambal raja yang khas Kalimantan Timur.
Keunikan lainnya adalah cara penyajian yang meriah—kadang dalam bentuk tumpeng atau piring besar yang menggoda selera. Tak hanya lezat, nasi kuning ini juga sarat makna budaya. Dalam tradisi masyarakat Kutai dan Banjar, nasi kuning adalah simbol kebahagiaan dan keberkahan. Ia hadir dalam setiap hajatan penting: dari aqiqah hingga syukuran pernikahan.
Tak heran jika nasi kuning menjadi menu favorit sejak dini hari. Di Kutim, beberapa warung seperti Warung Umi Lena di Teluk Lingga dan Kedai Sejati di Muara Wahau selalu ramai pembeli mulai pukul 05.00 pagi. Para pekerja tambang, ASN, hingga pelajar menjadikannya bekal bergizi sebelum beraktivitas.
Zaman digital membawa angin baru. Banyak pelaku UMKM kini memasarkan nasi kuning lewat media sosial, menerima pesanan via aplikasi, dan menyajikan dalam bentuk box premium. Bahkan muncul varian inovatif seperti nasi kuning tuna asap dan nasi kuning bento untuk anak-anak.
Nasi Kuning di Kutim bukan sekadar tradisi, tapi juga wujud adaptasi budaya dalam era modern. Dengan rasa yang khas, penyajian penuh filosofi, dan inovasi kekinian, sarapan ini tetap menjadi favorit lintas generasi.
Setiap suapan membawa kenangan masa kecil, semangat pagi, dan kebersamaan yang hangat. Inilah kuliner khas yang terus hidup di hati masyarakat Kutai Timur—mengawali hari dengan cita rasa lokal yang otentik.
