Jakarta – Harga beberapa komoditas pangan utama di Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan, menurut data terbaru dari Badan Pangan Nasional (Bapanas). Di sisi lain, beberapa bahan pokok seperti daging ayam ras dan telur ayam justru menunjukkan tren kenaikan, menciptakan dinamika harga yang kompleks di pasar domestik.
Berdasarkan data dari Panel Harga Bapanas per Rabu pukul 07.00 WIB, harga cabai rawit merah turun menjadi Rp65.682 per kilogram, dari sebelumnya Rp69.567 per kg. Komoditas lain seperti cabai merah besar dan cabai keriting masing-masing juga mengalami penurunan menjadi Rp41.091 dan Rp44.136 per kg. Penurunan serupa terjadi pada harga bawang merah yang kini berada di Rp40.095 per kg dari Rp45.068 per kg.
“Tren penurunan ini disebabkan oleh meningkatnya pasokan dari sentra produksi dan membaiknya distribusi logistik di beberapa daerah,” kata salah satu pejabat Bapanas yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, harga daging sapi murni tercatat turun drastis dari Rp135.192 menjadi Rp121.682 per kg. Daging kerbau beku impor juga ikut turun menjadi Rp90.000 per kg dari sebelumnya Rp105.536 per kg. Namun, tidak semua kabar menggembirakan bagi konsumen. Harga daging ayam ras justru naik menjadi Rp37.245 per kg, dari sebelumnya Rp35.607, sedangkan telur ayam ras naik menjadi Rp30.038 per kg dari Rp29.455 per kg.
Harga beras premium turun tipis ke Rp16.039 per kg, sedangkan beras medium justru naik ke Rp14.160 per kg. Komoditas pangan lain yang mengalami penurunan mencakup kedelai biji kering impor, minyak goreng curah, dan gula konsumsi. Minyakita dan tepung terigu kemasan juga menunjukkan tren penurunan.
Kenaikan terjadi pada harga tepung terigu curah yang naik ke Rp10.286 per kg dan beberapa jenis ikan seperti ikan kembung dan tongkol. Sebaliknya, ikan bandeng justru mengalami penurunan menjadi Rp43.091 dari Rp34.843 per kg.
Fluktuasi harga pangan ini menandai tantangan tersendiri bagi rumah tangga dan pelaku usaha kuliner di seluruh Indonesia. Pemerintah melalui Bapanas terus memantau dan mengintervensi pasar bila diperlukan untuk menjaga stabilitas harga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meski sebagian harga turun, beban konsumsi masyarakat tetap berubah-ubah, tergantung komoditas yang mereka butuhkan setiap harinya.
