Samarinda – Jumat siang yang biasanya lengang di kawasan rumah jabatan Wakil Gubernur Kalimantan Timur, berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga dari berbagai daerah, mulai dari pelosok Penajam Paser Utara, Paser, Kutai Timur hingga tepian Balikpapan, berbondong-bondong mendatangi kediaman resmi Seno Aji, sang Wakil Gubernur.
Hari itu, 6 Juni 2025, bertepatan dengan 10 Zulhijah 1446 Hijriah. Umat Islam merayakan Iduladha, hari raya besar yang tak hanya menandai pelaksanaan ibadah kurban, tetapi juga menjadi momentum spiritual untuk mempererat tali silaturahmi. Di tengah suasana sakral itu, rumah jabatan Wagub Kaltim menjadi titik temu masyarakat lintas latar belakang untuk merayakan bersama dalam bingkai kebersamaan.
“Awalnya saya kira acara ini cuma buat undangan terbatas, tapi ternyata terbuka untuk umum. Langsung saya ajak tetangga-tetangga satu RT buat datang bareng,” ungkap Aminah (42), warga Loa Janan, sambil menggendong anak bungsunya yang baru berusia dua tahun.
Aminah datang bersama suami dan tiga anaknya. Mereka telah bersiap sejak pagi, mengenakan pakaian terbaik. Bukan semata ingin berfoto dengan pejabat daerah, kata Aminah, tetapi lebih karena ingin merasakan kembali suasana lebaran kampung yang kini jarang ditemui di kota.
Lebih dari Ekspektasi
Pihak panitia semula hanya memperkirakan sekitar 1.000 hingga 2.000 warga yang akan datang. Namun, sejak sebelum pukul 14.00 WITA, antrean sudah mengular di halaman rumah jabatan. Di dalam, petugas sibuk menyambut, mengarahkan, dan membagikan makanan ringan serta minuman kepada tamu.
“Saya sempat khawatir karena jumlah yang hadir betul-betul di luar dugaan kami,” ujar Seno Aji kepada wartawan usai menyapa tamu.
Wajahnya yang ramah dengan sabar menyalami warga satu persatu. Ia terus berdiri, sesekali warga meminta foto bersama, berbincang sebentar dengan beberapa masyarakat.
“Kami mohon maaf apabila ada ketidaknyamanan. Ini memang over kapasitas. Tapi saya bersyukur, karena ternyata antusias masyarakat begitu besar untuk bersilaturahmi,” lanjutnya.
Acara itu sendiri berlangsung singkat—hanya dua setengah jam dari pukul 14.30 hingga 17.00 WITA. Namun, dalam waktu sesingkat itu, ribuan orang datang dan pergi bergantian, menciptakan aliran manusia yang tak henti-henti memenuhi pelataran dan ruang tamu kediaman.
Silaturahmi Lintas Iman
Yang menjadikan acara ini istimewa bukan hanya karena skalanya yang besar, tetapi juga karena spektrum peserta yang luas. Tidak hanya umat Islam yang hadir, melainkan juga tokoh agama Kristen, Buddha, Konghucu, dan Hindu dari berbagai komunitas lintas iman di Kalimantan Timur.
Sementara di sisi lain, beberapa pendeta dari Balikpapan berdiskusi santai dengan tokoh Dayak Katolik.
“Ini pemandangan yang luar biasa. Iduladha memang hari raya Islam, tapi Pak Wagub berhasil menjadikannya milik semua orang. Kami merasa dihargai, dilibatkan,” kata salah satu warga.
Doa untuk Kesejahteraan Kaltim
Seno Aji menegaskan bahwa acara ini bukan hanya bentuk ucapan selamat hari raya, melainkan juga momentum untuk menyatukan energi kolektif membangun Kalimantan Timur.
“Kami doakan semua warga sehat dan rezekinya semakin baik ke depan. Kami ingin Kalimantan Timur ini menjadi provinsi yang benar-benar sejahtera dan harmonis,” ujarnya.
Makna Kurban dan Pengabdian
Silaturahmi itu juga menjadi kelanjutan dari rangkaian kegiatan Iduladha Pemprov Kaltim yang sebelumnya ditandai dengan penyerahan hewan kurban dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke masjid-masjid di berbagai kabupaten dan kota. Salah satunya, seekor sapi limousin berbobot 960 kilogram diserahkan Wagub Seno Aji ke Masjid Besar Ar Rasyidin, Loa Bakung.
“Bapak Presiden ingin hadir secara simbolis lewat kurban. Ini jadi penguat bahwa pusat dan daerah bekerja bersama,” kata Seno.
Makna pengorbanan pun terasa relevan dengan semangat pelayanan publik. Seno Aji menegaskan bahwa jabatan bukan sekadar kehormatan, tapi juga bentuk pengabdian. Dalam konteks itu, ia berharap seluruh jajaran pemerintah dapat terus mendengar aspirasi rakyat, bersentuhan langsung dengan warga, dan menjaga integritas.
Menutup dengan Harapan
Menjelang pukul empat sore, matahari mulai condong ke barat. Beberapa warga masih berdatangan meski acara resmi akan segera ditutup. Seorang emak-emak bernama Wanti (63) terlihat menggenggam tangan anaknya sambil tersenyum.
“Dulu kalau lebaran, rumah pejabat selalu ramai. Tapi makin ke sini, acara seperti ini jarang. Makanya saya datang walau jauh dari Tenggarong,” tuturnya pelan.
Di mata Wanti, silaturahmi bukan soal siapa yang menjamu, tapi soal hati yang terbuka. Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus digelar, agar masyarakat tidak merasa jauh dari pemimpinnya.
Beberapa warga masih memilih bertahan sejenak. Mereka menikmati suasana, berbincang santai, atau sekadar berswafoto di halaman yang dihias sederhana namun penuh makna.
Dalam suasana Iduladha yang penuh berkah ini, rumah jabatan Wagub Kaltim tak hanya menjadi tempat bersalaman, tetapi juga ruang penyatu semangat masyarakat yang beragam. Di tengah perbedaan agama, suku, dan daerah, rasa persaudaraan menjadi kurban terbaik yang dipersembahkan untuk negeri.
