Jember – Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tahun 2026, Rumah Sakit Daerah (RSD) Soebandi Jember menggelar bakti sosial (baksos) pelayanan Metode Operasi Wanita (MOW) dan Metode Operasi Pria (MOP), Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan nyata terhadap program keluarga berencana nasional dan dihadiri langsung oleh Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Timur, Sodiqin, S.H.
Direktur RSD Soebandi, dr. Nyoman Semita, menjelaskan bahwa pelayanan MOP dan MOW sejatinya rutin dilakukan di rumah sakit. Namun, dalam momentum Harganas kali ini, pelayanan dikemas dalam bentuk bakti sosial dengan skala yang jauh lebih besar.
“Pelayanan MOP dan MOW ada yang reguler dan ada yang melalui bakti sosial. Pada kegiatan ini kami memberikan dukungan penuh terhadap program BKKBN dengan menerjunkan sekitar 150 tenaga rumah sakit, terdiri dari 125 tenaga fungsional dan 25 tenaga manajerial,” ujar dr. Nyoman.
Selain menyiapkan sumber daya manusia, RSD Soebandi juga mengoptimalkan seluruh sarana dan prasarana, mulai dari kamar operasi, ruang pascaoperasi hingga ruang pemulihan (recovery room). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan berjalan cepat, aman, nyaman, dan tetap mengutamakan mutu.
“Tujuan kami adalah memberikan pelayanan yang berkualitas, mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, serta memastikan masyarakat memperoleh pelayanan yang cepat dan nyaman,” tambahnya.
Dalam baksos tersebut, tercatat sebanyak 238 peserta MOW dan 25 peserta MOP mengikuti pelayanan, sehingga total akseptor mencapai hampir 250 orang. Seluruh tindakan medis ditargetkan selesai dalam satu hari.
“Hari ini harus selesai. Tim kami bekerja sangat cepat, bahkan satu tindakan bisa diselesaikan sekitar dua menit, namun tetap dengan standar mutu, keamanan, dan kenyamanan yang tinggi agar tidak menimbulkan komplikasi,” ungkap dr. Nyoman.
Ia menegaskan, peserta yang mengikuti baksos ini telah melalui proses edukasi dan pendataan oleh penyuluh serta kader KB di lapangan. Sementara pihak rumah sakit berperan memberikan pelayanan medis sesuai prosedur.
“Peserta sudah dikumpulkan dan diberikan edukasi oleh tim penyuluh KB dan kader KB. Kami di rumah sakit menjalankan fungsi pelayanan agar program ini dapat terlaksana dengan baik,” jelasnya.
Lebih lanjut, dr. Nyoman menerangkan bahwa pelayanan MOW maupun MOP tetap tersedia di luar kegiatan bakti sosial, terutama bagi pasien dengan indikasi medis tertentu yang mengharuskan penghentian kehamilan di masa mendatang demi keselamatan ibu.
Ia juga menyampaikan bahwa kelompok usia yang diprioritaskan untuk mengikuti MOW adalah perempuan berusia di atas 35 tahun, mengingat kehamilan pada usia tersebut memiliki risiko lebih tinggi terhadap ibu maupun bayi, termasuk ancaman stunting.
“Usia di atas 35 tahun menjadi prioritas karena risiko kehamilan sudah cukup tinggi. Namun, bagi pasangan yang sudah memiliki dua anak, meskipun usianya masih di bawah itu, tetap dianjurkan mempertimbangkan program ini demi menjaga kesehatan ibu dan ketahanan keluarga,” pungkasnya.
Melalui kegiatan bakti sosial ini, RSD Soebandi bersama BKKBN berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perencanaan keluarga, sekaligus memperkuat upaya menekan angka kematian ibu dan bayi serta mencegah stunting di Kabupaten Jember.( ADV )
