Pamekasan – “Setetes air bak emas di gurun pasir,” begitulah perumpamaan yang tepat untuk situasi terkini di Pamekasan. Musim kemarau kali ini membawa cobaan berat bagi ratusan dusun di wilayah tersebut, membuat warga berjuang demi seteguk air bersih.
Sebanyak 269 dusun tersebar di 75 desa di 10 kecamatan terpaksa mengandalkan bantuan dari delapan truk tangki air milik Pemkab Pamekasan. Upaya ini adalah respons atas krisis air bersih yang semakin kritis di tengah musim kemarau. Pada Selasa (20/8/2024) malam, Akhmad Dofir Rosidi, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Pamekasan, menyatakan bahwa kekeringan ini mengakibatkan warga harus menempuh jarak hingga 3 kilometer hanya untuk memperoleh air.
Dampak Kekeringan di 10 Kecamatan
Kekeringan yang melanda Pamekasan kali ini terbagi menjadi dua kategori: kekeringan langka dan kekeringan kritis. Sebanyak 188 dusun mengalami kekeringan langka, di mana kebutuhan air hanya di bawah 10 liter per orang per hari, dengan jarak tempuh sekitar 0,5 hingga 3 kilometer ke sumber air terdekat.
Sementara itu, 81 dusun lainnya masuk kategori kekeringan kritis, dengan kebutuhan air lebih dari 10 liter per orang per hari dan jarak tempuh mencapai lebih dari 3 kilometer.
“Pendistribusian bantuan air bersih oleh BPBD Pemkab Pamekasan ini sudah dimulai sejak Juli 2024, namun pemberangkatan secara simbolis baru dilakukan pada 17 Agustus 2024, setelah upacara HUT Kemerdekaan RI,” jelas Rosidi, menekankan pentingnya tindakan cepat untuk mengatasi krisis ini.
Upaya Lain Atasi Kekeringan
Selain mendistribusikan air bersih, Pemkab Pamekasan juga tengah melakukan pembangunan sanitasi rumah tangga sebagai solusi jangka panjang. Program ini menyasar 16 desa dan kelurahan, termasuk Desa Bandaran, Gugul, dan Terak di Kecamatan Tlanakan, serta Desa Bulai di Kecamatan Galis dan Desa Panaguan di Kecamatan Larangan.
“Pembangunan sanitasi ini merupakan langkah strategis dari Dinas Pekerjaan Umum, sedangkan pendistribusian air bersih dikelola oleh BPBD dan Dinas Sosial Pemkab Pamekasan,” tambah Rosidi.
Situasi kekeringan yang mencekik di Pamekasan menuntut sinergi dari berbagai pihak untuk memastikan pasokan air tetap terjaga. Bantuan sementara berupa distribusi air dan pembangunan infrastruktur diharapkan dapat meringankan beban warga, meski upaya jangka panjang tetap menjadi kebutuhan mendesak untuk mencegah krisis serupa di masa depan.
