Tenggarong – Di tengah pergeseran sosial dan ekonomi yang cepat, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Kutai Timur di bawah pimpinan Achmad Junaidi, sedang berupaya keras untuk mengubah pandangan lama yang mengakar dalam masyarakat: “banyak anak banyak rejeki”. Anggapan ini, menurut Junaidi, telah menjadi salah satu hambatan utama dalam mempromosikan penggunaan alat kontrasepsi di wilayah tersebut.
Tantangan dan Hambatan
Bagi banyak keluarga di Kutai Timur, memiliki banyak anak sering kali diartikan sebagai jaminan rejeki dan kesejahteraan di masa depan. Namun, Junaidi menekankan bahwa pandangan tersebut tidak selalu sesuai dengan kondisi perekonomian dan akses terhadap pendidikan yang ada saat ini.
“Kami harus melakukan sosialisasi yang gencar kepada masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga yang baik. Apakah perekonomian sudah cukup kuat untuk mendukung keluarga besar? Bagaimana dengan pendidikan dan kesejahteraan anak-anak?” kata Junaidi dalam sebuah wawancara eksklusif di Ruang kerjanya, Senin (27/5/2024).
Strategi Sosialisasi
Untuk mengubah paradigma ini, Dinas PPKB Kutai Timur akan mengadopsi pendekatan yang lebih modern dan menyeluruh. Salah satu langkah strategis yang akan diambil adalah memanfaatkan media sosial dan media massa sebagai alat utama dalam kampanye sosialisasi. “Kami akan lebih banyak menggunakan media sosial dan media massa. Selain itu, kami juga akan membuat podcast sebagai bahan sosialisasi kepada masyarakat,” jelas Junaidi.
Dengan pendekatan ini, Junaidi berharap dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan beragam, terutama generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi digital. “Kami ingin masyarakat teredukasi dengan baik mengenai manfaat dari perencanaan keluarga yang seimbang, bukan hanya dari sisi ekonomi tetapi juga dari sisi hak anak untuk mendapatkan pendidikan dan kehidupan yang layak,” tambahnya.
Melibatkan Tokoh Masyarakat dan Agama
Selain memanfaatkan media digital, Junaidi juga berencana menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam kampanye ini. “Kami akan menghadirkan dan menggandeng tokoh masyarakat dan tokoh agama yang akan bicara tentang mengubah pandangan tersebut. Kami percaya bahwa dengan dukungan mereka, pesan kami akan lebih mudah diterima oleh masyarakat luas,” ujar Junaidi.
Mendengar dari Praktik Lapangan
Langkah konkret lainnya adalah mendengar dan belajar dari praktik yang sudah ada di lapangan. Junaidi dan timnya akan mengumpulkan berbagai cerita sukses dari keluarga yang telah menerapkan perencanaan keluarga dengan baik.
“Kami akan mendengarkan beberapa praktik terbaik dan menggunakannya sebagai contoh inspiratif bagi masyarakat lainnya,” katanya.
Perubahan paradigma “banyak anak banyak rejeki” di Kutai Timur bukanlah tugas yang mudah, namun dengan strategi yang tepat dan dukungan dari berbagai pihak, Junaidi optimis bahwa pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penggunaan alat kontrasepsi dan perencanaan keluarga yang baik akan meningkat.
“Ini bukan hanya tentang mengendalikan jumlah penduduk, tapi juga tentang memberikan hak anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang sehat, sejahtera, dan berpendidikan,” tutupnya dengan penuh harap.
Dengan langkah-langkah strategis ini, diharapkan masyarakat Kutai Timur dapat melihat masa depan yang lebih cerah dan sejahtera melalui perencanaan keluarga yang bijak dan terinformasi.
