Tips Gen Z untuk sukses di industri kreatif berbasis digital menjadi pembahasan utama dalam Seminar Ekonomi di Politeknik Triguna Tasikmalaya, Sabtu (3/5/2025). Dr. Lina Marlina memaparkan strategi jitu bagi generasi muda untuk memenangkan kompetisi di dunia kerja kreatif yang serba digital dan penuh tantangan.
Berikut ini adalah lima kunci sukses bagi Gen Z agar bisa unggul di era industri kreatif digital:
- Kuasai Tools Digital Populer*
Alat seperti Canva, CapCut, Notion, dan ChatGPT kini menjadi standar kerja di berbagai bidang kreatif. Tak perlu jadi ahli, cukup tahu cara menggunakannya dengan baik dan tepat sasaran.
Itu akan mempercepat produktivitas dan meningkatkan nilai kerja kita di mata pasar atau perusahaan.
2. Belajar Mandiri dan Praktik Konsisten*
Sumber belajar tersedia gratis dan melimpah. YouTube, platform kursus daring, hingga komunitas digital bisa jadi tempat upgrade skill.
Yang penting adalah praktik terus-menerus. Konsistensi lebih bernilai daripada bakat semata.
3. Bangun Personal Branding Sejak Dini*
Menjadi kreator di era digital bukan hanya soal karya, tapi juga bagaimana menampilkan diri. Portofolio online, akun media sosial yang aktif dan terarah, serta keterlibatan dalam komunitas profesional akan membangun citra diri yang kuat dan dikenal.
4. Manfaatkan Potensi Lokal Jadi Nilai Tambah*
Tasikmalaya dan daerah lainnya punya kekayaan budaya dan produk lokal yang bisa dikembangkan lewat pendekatan kreatif. Kolaborasi, inovasi desain, serta pemasaran digital bisa menjadikan kriya lokal naik kelas, bahkan menembus pasar nasional dan internasional.
5. Adaptif dan Menyambut Masa Depan*
Dunia bisnis dan kerja berubah cepat. Banyak pekerjaan yang belum eksis hari ini akan muncul di 5-10 tahun ke depan. Maka, kemampuan adaptasi dan keinginan untuk terus belajar adalah senjata utama untuk tetap relevan dan menjadi pelaku utama dalam industri kreatif.
Melalui kelima strategi ini, Gen Z diajak untuk melihat masa depan bukan sebagai tantangan, melainkan peluang. Kreativitas kini bukan hanya nilai tambah—tapi modal utama untuk memimpin perubahan.
