Jombang – Semangat inovasi dan pemberdayaan ekonomi lokal kembali membuahkan hasil di Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Sabtu pagi yang cerah menjadi saksi panen perdana buah melon di Agrowisata Sumber Celeng (ASC), sebuah kawasan wisata berbasis pertanian yang digagas oleh pemerintah desa setempat dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jaya Mahe.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Camat Diwek Agus Sholihuddin yang berkesempatan memetik melon pertama dari dalam greenhouse modern yang dibangun di tengah kawasan agrowisata tersebut. Kehadiran camat Sholihuddin sekaligus menjadi bentuk dukungan dan apresiasi terhadap langkah progresif pemerintah desa Bulurejo dalam memanfaatkan potensi pertanian untuk peningkatan perekonomian masyarakat.
“Saya sangat mengapresiasi inisiatif pemerintah desa Bulurejo. Agrowisata petik melon ini bukan hanya sekadar inovasi, tapi juga menjadi strategi yang sangat bermanfaat untuk mendongkrak ekonomi desa,” ungkap Camat Diwek saat diwawancarai usai kegiatan panen di Lokasi, Sabtu (22/3/2025). “Saya sudah berdiskusi dengan Sekretaris Desa, dan penggunaan Dana Desa (DD) sebesar 20 persen untuk mendukung pengembangan ini sangat memungkinkan. Silakan nanti dialokasikan sesuai kebutuhan,” imbuhnya.
Dua Varietas Unggulan: Merlin dan Leoni
Panen perdana ini memperkenalkan dua varietas melon unggulan, yaitu Merlin dan Leoni. Melon jenis Merlin berwarna hijau dengan rasa manis menyegarkan, sementara Leoni memiliki warna kuning keemasan yang mencolok dan daging buah yang tebal. Kedua jenis melon ini bisa dipanen setelah 65 hari masa tanam.
Basis Dony, Sekretaris Desa Bulurejo, menyampaikan rasa syukurnya atas tingginya antusiasme masyarakat terhadap panen perdana ini. “Kami tidak menyangka antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Banyak warga dari luar desa yang datang khusus hanya untuk merasakan sensasi petik buah melon langsung dari greenhouse,” ujarnya.

Dari Belajar Mandiri ke Agrowisata Modern
Kunci dari keberhasilan panen melon di ASC tidak lepas dari peran penting seorang warga bernama Sunyoto. Ia adalah sosok di balik budidaya melon yang kini jadi primadona di Bulurejo. Sunyoto mengaku belajar secara otodidak melalui YouTube dan berbagai referensi daring lainnya. Ia melakukan uji coba menanam melon di rumah sebelum akhirnya mendapat perhatian dari pemerintah desa.
“Awalnya saya hanya coba-coba di rumah. Belajar dari YouTube, saya praktekkan sedikit-sedikit. Ternyata hasilnya bagus. Pemerintah desa kemudian mendukung penuh dan menyediakan lahan serta fasilitas greenhouse di kawasan Agrowisata Sumber Celeng ini,” kisahnya.
Upaya ini membuahkan hasil yang manis. Sebanyak 300 pohon melon yang ditanam dalam greenhouse berhasil panen serentak dan langsung habis terjual dalam waktu kurang dari satu minggu. Hal ini menunjukkan adanya pasar yang sangat menjanjikan untuk komoditas melon, terlebih jika disandingkan dengan pengalaman wisata edukatif seperti petik buah langsung dari kebun.
“Alhamdulillah panen perdana ini sukses besar. Tidak sampai satu minggu, semua melon yang kami tanam sudah habis terjual,” kata Sunyoto dengan nada bangga.
Efisiensi Melalui Media Tanam Ramah Lingkungan
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari metode penanaman yang efisien dan ramah lingkungan. Dalam budidaya melon di greenhouse, Sunyoto dan tim memilih menggunakan polybag sebagai media tanam. Komposisi medianya terdiri dari pasir ladu, arang sekam, dan kompos terfermentasi dengan tambahan dolomit dan asam humat secukupnya.
“Kami sengaja tidak menggunakan cocopeat karena membutuhkan perawatan ekstra. Dengan media tanam seperti ini, kami hanya perlu menyiram dua kali sehari. Ini sangat membantu karena saya juga punya kesibukan lain di luar bertani,” jelasnya.
Menurut Pak Arifin, eksekutor lapangan, media tanam tersebut memiliki daya serap air yang tinggi, sehingga lebih hemat waktu dan tenaga. “Setelah panen ini, media tanam akan kami fermentasi ulang untuk kemudian ditanami bibit baru. Jadi siklus tanam bisa terus berjalan tanpa harus mengganti media sepenuhnya,” terangnya.
Sementara itu, Salahuddin, petani lapangan, menambahkan bahwa timnya sudah menyiapkan segala kebutuhan untuk masa tanam berikutnya. “Kami sudah siapkan bibit baru dan media tanamnya sudah hampir siap. Target kami, dalam dua bulan ke depan bisa panen lagi,” ujarnya optimis.
Manfaat Greenhouse dan Potensi Ekonomi Desa
Greenhouse atau rumah kaca memainkan peran krusial dalam keberhasilan panen ini. Struktur bangunan tertutup ini memungkinkan tanaman tumbuh dalam lingkungan yang terkendali, sehingga terlindungi dari gangguan cuaca, hama, dan penyakit. Keunggulan lainnya adalah musim tanam yang bisa diperpanjang dan hasil panen yang lebih berkualitas.
Meski biaya pembangunan greenhouse relatif besar di awal, namun keuntungan jangka panjangnya sangat menjanjikan. Tanaman melon, sebagai komoditas bernilai tinggi dengan permintaan pasar yang stabil, menjadi pilihan tepat untuk dibudidayakan dalam greenhouse.
Keberhasilan ASC dalam mengelola budidaya melon berbasis greenhouse ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, sektor pertanian bisa menjadi sumber pendapatan utama bagi desa. Bahkan, potensi ini bisa dikembangkan lebih luas dengan menjangkau lebih banyak segmen, mulai dari wisatawan, pelajar, hingga pengusaha agribisnis.
“Kalau satu greenhouse saja sudah bisa memberi keuntungan seperti ini, saya yakin jika dikembangkan lebih luas, akan lebih banyak lagi manfaatnya bagi masyarakat,” ujar Camat Diwek.
Harapan dan Rencana Pengembangan
Melihat respon positif dari masyarakat dan suksesnya panen perdana, pemerintah desa Bulurejo tidak tinggal diam. Mereka mulai merancang perluasan kawasan greenhouse dan memperluas sektor wisata edukatif berbasis pertanian.
“Ke depan, kami akan tambah jumlah greenhouse dan melibatkan lebih banyak warga sebagai petani mitra. Kita juga akan menggandeng sekolah-sekolah untuk menjadikan ASC sebagai tempat edukasi pertanian modern,” terang Sekretaris Desa Basis Dony.
Selain perluasan, BUMDes Jaya Mahe juga mulai menyiapkan program pelatihan pertanian berbasis teknologi bagi generasi muda desa. Dengan cara ini, diharapkan regenerasi petani tetap berjalan dan sektor pertanian tidak lagi dipandang sebelah mata.
“Kami ingin generasi muda melihat bahwa bertani itu keren dan menjanjikan. Tidak harus selalu kerja di kota, karena di desa juga bisa sejahtera asal mau berinovasi,” tegas Dony.
Panen perdana melon di Agrowisata Sumber Celeng menjadi bukti nyata bahwa semangat inovasi, kolaborasi, dan kemauan belajar bisa mengubah wajah desa. Dari lahan sederhana, lahir gagasan besar yang menjadikan Desa Bulurejo bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan edukasi berbasis pertanian modern.
Kesuksesan ini juga menjadi sinyal kuat bagi desa-desa lain di Kabupaten Jombang, bahwa dengan perencanaan matang dan sinergi antarpihak, potensi lokal bisa menjadi pilar kemandirian dan kesejahteraan masyarakat. Bulurejo telah memulai langkah besar. Kini saatnya desa-desa lain menyusul jejaknya.
