Tangsel – Di sudut sederhana Kampung Pemulung Jurang Mangu, semangat kebersamaan tampak hidup di bulan suci Ramadan. Melalui inisiatif komunitas Tjokronesia, puluhan anak mengikuti kegiatan pesantren kilat yang dirancang untuk menghadirkan pembelajaran spiritual sekaligus edukasi dasar dalam suasana hangat dan penuh kepedulian pada Jumat (6/3/2026).
Kegiatan ini diikuti sekitar 30 anak yang berasal dari lingkungan Kampung Pemulung di Jurang Mangu, Tangerang Selatan. Pesantren kilat Ramadan tersebut digagas oleh Tjokronesia yang kemudian mengajak sejumlah organisasi dan komunitas untuk berkolaborasi, di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Tangerang Selatan, Sedar, Abang None Tangerang Selatan, serta Taman Baca Tangsel.

“Selama ini kegiatan pesantren kilat Ramadan umumnya hanya diselenggarakan di masjid atau sekolah. Padahal, menghadirkan Sanlat di Kampung Pemulung merupakan sebuah terobosan inovatif. Hal ini penting karena masyarakat yang termarjinalkan juga perlu dirangkul dan diberi kesempatan untuk memperoleh pembelajaran yang sama seperti yang lainnya. Upaya ini menjadi langkah untuk mendorong pendidikan yang lebih inklusif sekaligus menjadi wujud nyata pengabdian dan peran aktif komunitas muda” ujar Adhil Ramadhan Tjokropakresit, Ketua Umum Tjokronesia saat diwawancarai pada Sabtu pagi (7/3/2026).
Dalam kegiatan tersebut, para peserta mendapatkan berbagai materi yang disampaikan secara interaktif agar mudah dipahami oleh anak-anak. Materi yang diberikan mencakup pengenalan pola hidup bersih dan sehat, pembelajaran doa-doa harian, serta pembiasaan amalan sederhana yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari selama bulan Ramadan.
Para relawan dari berbagai komunitas turut mendampingi anak-anak selama kegiatan berlangsung. Pendekatan yang digunakan dirancang ramah anak sehingga proses belajar terasa santai dan menyenangkan. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari penyampaian materi hingga kegiatan permainan edukatif yang disisipkan dalam rangkaian acara.
Kehadiran kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial komunitas terhadap anak-anak yang tinggal di kawasan dengan keterbatasan akses pembelajaran. Melalui kolaborasi lintas komunitas, para relawan berupaya memberikan ruang edukasi sekaligus menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Rangkaian kegiatan pesantren kilat Ramadan kemudian ditutup dengan acara buka puasa bersama antara para peserta dan relawan. Suasana kebersamaan terasa hangat ketika anak-anak dan para relawan menikmati hidangan berbuka sambil berbagi cerita.
Melalui inisiatif yang digagas Tjokronesia ini, para penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di masa mendatang. Kolaborasi antar komunitas dinilai penting untuk memperluas jangkauan kegiatan sosial dan memberikan dampak positif bagi masyarakat yang membutuhkan.
Semangat gotong royong yang terbangun dalam kegiatan ini menjadi bukti bahwa kolaborasi komunitas dapat menghadirkan perubahan kecil yang berarti, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kesempatan belajar yang lebih luas.
