Semarang – Ulang tahun ke-46 Teater Lingkar Semarang hadir bukan sekadar pesta penanda usia, melainkan seperti lingkaran yang kembali menutup pada titik asalnya: budaya, persaudaraan, dan kenangan. Dalam suasana hangat yang dibalut haru, komunitas seni ini merangkai perayaan dengan pagelaran wayang kulit dan halal bihalal, sekaligus menghadirkan kembali jejak batin almarhum MasTon, pendiri yang namanya tetap hidup di hati keluarga besar Lingkar.
Rangkaian peringatan dimulai pada Kamis [2 April 2026] melalui “Pagelaran Wayang Kulit Jumat Kliwon ke-335” yang menyedot perhatian penikmat seni tradisi di Kota Semarang. Dalam pentas tersebut, dalang Ki Kasim Purwo Wasito membawakan lakon Dursasana Gugur, sebuah kisah yang sarat pesan moral dan nilai filosofis. Kegiatan ini terselenggara lewat kolaborasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Teater Lingkar Semarang, serta PEPADI Kota Semarang. Sinergi itu menunjukkan bahwa ruang kebudayaan tetap bisa dijaga bersama, bahkan ketika zaman terus bergerak cepat.
Dua hari kemudian, pada Sabtu [4 April 2026], suasana bergeser dari gemuruh panggung menuju kehangatan kekeluargaan. Halal bihalal dan tasyakuran bertema “Teater Lingkar Selalu di Hati” digelar di Sanggar Teater Lingkar Semarang. Acara itu menjadi titik temu para seniman, alumni, anggota lama, dan generasi muda yang sama-sama memandang Lingkar bukan hanya sebagai kelompok teater, melainkan rumah budaya yang membesarkan banyak jiwa. Kini, estafet kepemimpinan berada di tangan Ki Sindhunata Gesit Widiarto yang meneruskan amanah setelah wafatnya MasTon.
Suasana paling menyentuh muncul saat keluarga besar Teater Lingkar menyaksikan pemutaran video kenangan almarhum MasTon. Melalui tayangan itu, hadirin seakan diajak kembali ke masa awal komunitas ini lahir. Dalam rekaman tersebut, MasTon bercerita bahwa Teater Lingkar bermula dari kegelisahannya melihat anak-anak muda di kawasan Tegal Wareng—kini dikenal sebagai kawasan Taman Budaya Raden Saleh—yang sering berkumpul tanpa arah yang jelas. Dari keprihatinan itu, ia memilih jalan merangkul, bukan menjauhkan.
“Ada kekhawatiran bahwa kegiatan-kegiatan teman-teman muda itu tidak positif. Berangkat dari inilah saya mencoba untuk merangkul mereka, mengajak dialog mereka bagaimana kalau kita adakan sebuah komunitas yang mengeluti tentang seni teater.”
Ajakan itu ternyata mendapat sambutan. Para pemuda yang dihampiri MasTon kemudian berkumpul, berdiskusi, dan bersepakat membentuk wadah berkesenian. Pada Selasa (4/3/1980), lahirlah kelompok yang kemudian diberi nama “Lingkar”. Nama itu, menurut MasTon, bukan dipilih tanpa makna, melainkan menjadi filosofi hidup bersama yang terus dijaga hingga kini.
“Lingkar itu berasal dari kata lingkaran, yang mempunyai satu titik pusat dengan jari-jari yang sama. Titik pusat itu merupakan satu tujuan untuk menjadi manusia yang berakhlak. Jari-jari yang sama kita artikan sebagai setiap anggota punya hak dan kewajiban yang sama.”
Pemaknaan itu lalu dipertegas lagi oleh MasTon ketika menjelaskan bahwa satu anggota dalam sebuah lingkaran tidak pernah berdiri sendiri. Gerak satu orang akan memengaruhi posisi yang lain. Karena itu, Teater Lingkar dibangun di atas rasa tanggung jawab kolektif, kehati-hatian dalam bertindak, dan kesadaran bahwa berkesenian juga berarti membentuk watak. Nilai itulah yang membuat komunitas ini bertahan hampir setengah abad.
“Budaya itu merupakan benteng dari sebuah negara, sebuah bangsa. Membangun jiwa itu dengan kesenian, dengan kebudayaan. Membangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Cinta budaya, cinta Indonesia.”
Pesan itulah yang kemudian seperti diwariskan kembali oleh Ki Sindhunata Gesit Widiarto. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Teater Lingkar harus tetap menjadi rumah terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berkarya, dan mencintai budaya. Menurutnya, warisan terbesar MasTon bukan hanya organisasi, tetapi juga nilai yang menempatkan seni sebagai jalan pembentukan karakter. Ia mengajak seluruh keluarga besar Lingkar menjadikan HUT ke-46 bukan sekadar seremoni, melainkan pembaruan tekad untuk merawat nyala kebudayaan di Semarang.
“Almarhum MasTon telah membangun Teater Lingkar bukan hanya sebagai tempat berkesenian, tetapi sebagai tempat membentuk karakter. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa nilai-nilai yang beliau tanamkan tidak ikut berpulang bersama beliau melainkan terus hidup dan tumbuh dalam diri setiap anggota Lingkar.”
Perayaan ini pada akhirnya memperlihatkan bahwa Teater Lingkar Semarang masih berdiri kokoh sebagai rumah seni yang dibangun dari kasih, disiplin, dan kecintaan terhadap budaya. Selama nilai itu tetap dijaga, nama MasTon tak akan pernah benar-benar pergi, dan Lingkar akan terus menyala untuk Semarang serta Indonesia.
