Bontang – Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, membangun karakter generasi muda dinilai tidak cukup hanya melalui pembelajaran akademik. Pendidikan mengenai bahaya pergaulan bebas disebut perlu diperkuat sejak dini agar peserta didik memiliki bekal moral dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Anggota Komisi B DPRD Kota Bontang, Suharno, mengajak seluruh pihak meningkatkan edukasi mengenai bahaya pergaulan bebas sebagai langkah preventif untuk menekan berbagai persoalan sosial yang melibatkan remaja. Menurutnya, meningkatnya kompleksitas kenakalan remaja menjadi alasan penting bagi dunia pendidikan untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter, etika, dan kepribadian. Ia bahkan mendorong agar materi tersebut menjadi bagian dari kurikulum pendidikan yang diberikan secara bertahap sesuai usia peserta didik.
“Anak-anak Indonesia harus tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, cerdas, memiliki karakter dan akhlak mulia. Untuk mewujudkannya diperlukan pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun moral dan kepribadian,” ujarnya.
Menurut Suharno, sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan pemahaman yang benar mengenai dampak negatif pergaulan bebas. Edukasi tersebut, katanya, bukan dimaksudkan untuk menimbulkan rasa takut, melainkan membekali anak dengan pengetahuan sehingga mampu menentukan pilihan yang bertanggung jawab ketika menghadapi berbagai pengaruh dari lingkungan sekitarnya.
“Saya memandang pendidikan mengenai bahaya pergaulan bebas perlu diajarkan kembali secara lebih intensif di sekolah-sekolah. Tujuannya bukan untuk menakut-nakuti, tetapi memberikan pemahaman agar anak mampu mengambil keputusan yang benar,” katanya.
Ia menambahkan, materi yang disampaikan harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan usia peserta didik sehingga mudah dipahami dan tidak menimbulkan kesalahpahaman. Pendekatan yang bijaksana dan edukatif diyakini akan membantu anak memahami konsekuensi dari setiap tindakan serta meningkatkan kemampuan mereka dalam menjaga diri dari pengaruh negatif.
“Anak-anak perlu mengetahui konsekuensi dari setiap tindakan sejak dini. Dengan pengetahuan yang benar, mereka akan lebih mampu menjaga diri dan tidak mudah terpengaruh lingkungan yang negatif,” jelasnya.
Selain lingkungan sekolah, Suharno menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak. Menurutnya, perkembangan teknologi dan media sosial menghadirkan tantangan baru yang membuat pengawasan serta komunikasi antara orang tua dan anak menjadi semakin penting. Keterbukaan dalam keluarga dinilai mampu membantu anak menyampaikan persoalan yang dihadapi sekaligus memperoleh arahan yang tepat.
“Pengawasan orang tua tetap menjadi kunci. Hari ini tantangan anak bukan hanya lingkungan sekitar, tetapi juga media sosial. Karena itu komunikasi dalam keluarga harus semakin baik,” ucapnya.
Lebih lanjut, Suharno berharap kolaborasi antara pemerintah, sekolah, keluarga, tokoh agama, dan masyarakat terus diperkuat dalam mendampingi tumbuh kembang generasi muda. Sinergi lintas sektor tersebut dinilai menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan kondusif bagi anak-anak dalam menghadapi perkembangan zaman.
“Kalau semua pihak bekerja sama, saya optimistis kita bisa menciptakan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” tuturnya.
Ia menilai upaya pencegahan terhadap berbagai persoalan sosial harus dilakukan secara berkesinambungan melalui pendidikan karakter, penguatan nilai moral, serta pendampingan dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bertanggung jawab, serta mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa mudah terpengaruh oleh perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. (ADV).
