Cirebon – Dari tumpukan masalah lingkungan di pesisir Panjunan, RW 7K Jangbandeng, lahirlah solusi berbasis teknologi: MICLEAN 5.1.2. Robot pembersih ini diciptakan oleh Michelin Harosan Syadida, mahasiswa semester akhir jurusan Informatika, sebagai bagian dari skripsi dan bentuk nyata kontribusi terhadap masyarakat.
“Memang banyak yang tanya soal ini, termasuk dari Abbot Sorbon dan Filatelit Ramufa. Tapi saya tegaskan, MICLEAN 5.1.2 beda dari program Jakarara. Ini proyek riset saya yang kebetulan juga jadi penelitian terbaik,” ujar Michelin.
Berbekal ketertarikan kuat pada bidang robotik, ia memilih fokus ke proyek inovatif daripada pengembangan data atau web. “Saya ingin mendayung, tapi 30 terlampaui,” tambahnya, mengisyaratkan ambisi untuk mencapai banyak tujuan sekaligus. Salah satunya, mewakili Indonesia dalam program internasional Messenger of Peace yang diadakan oleh gerakan Pramuka dunia.
MICLEAN 5.1.2 dirancang sebagai robot cerdas untuk membantu pengelolaan sampah dan mengurangi dampak banjir, terutama di wilayah pesisir yang kerap terdampak. Proyek ini juga menjadi bentuk nyata dari filosofi bahwa mahasiswa tidak hanya berhenti di tataran teori, namun juga harus bisa membuktikan kontribusinya di lapangan.
Tempat risetnya sendiri adalah lokasi yang tidak asing baginya—Kelurahan Panjunan, kawasan tempat ia pernah tinggal dan menyaksikan langsung persoalan lingkungan yang akut. “Saya ingin menghadirkan solusi, bukan sekadar lulus kuliah,” katanya.
Proyek ini mendapatkan dukungan luas. Dinas Lingkungan Hidup Kota Cirebon bahkan menyatakan siap “pasang badan” untuk meneruskan MyClean 5.1.2 ke Dinas PUPR. Dukungan juga datang dari sektor Ekonomi Kreatif, yang memfasilitasi proses hak cipta, serta dari kampus tempatnya menempuh studi, yang tak segan membantu dana hingga penyempurnaan teknis.
“Alhamdulillah, bahkan Bupati Jawa Tengah pun tertarik dan berencana mengundang saya untuk mempresentasikan robot ini,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, dalam ajang Jakarara 2025, Michelin turut mengangkat pendekatan teknologi untuk pariwisata berbasis Augmented Reality. Tujuannya adalah membawa budaya Cirebon ke ranah digital, memperkenalkan warisan lokal dengan sentuhan teknologi masa depan.
Dengan visi kuat, kombinasi teknologi dan kepedulian lingkungan, Michelin tak hanya menyelesaikan studi, tapi juga membawa nama Cirebon ke ranah nasional dan internasional.
