Cirebon – “Ini bukan sekadar ajang tampil, tapi ruang tumbuh, belajar, dan mencintai Cirebon lebih dalam.” Begitu kesan mendalam dari salah satu peserta ajang Jaka Rara Cirebon 2025, Michelin Harosan, yang menuturkan dengan semangat seluruh rangkaian kegiatan hingga puncak grand final. Acara bergengsi ini kembali digelar setelah vakum selama hampir tiga tahun, dan hadir dengan semangat baru serta antusiasme tinggi dari para finalis.
Michelin menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan dimulai sejak 16 Mei 2025, diawali dengan masa karantina selama tiga hari. Setiap pagi, para finalis mengikuti berbagai sesi pengembangan diri, sementara malam harinya diisi acara untuk warga kota Cirebon. Di hari pertama, mereka tampil dalam sesi Unjukabisa, di mana masing-masing finalis menunjukkan bakat terbaik mereka, termasuk menyampaikan puisi bertema Kota Cirebon.
“Puisi itu menjadi bentuk cinta kami kepada kota ini, sebagai generasi muda yang ingin terus mengembangkan budaya dan pariwisata,” ujar Michelin, yang mewakili Kelurahan Pekirengan dan dikenal sebagai mahasiswa IT berusia 21 tahun.
Tanggal 17 Mei diisi dengan sesi wastra dan preliminary, termasuk peragaan busana batik wastra dan tampilan Office Look sebagai bentuk pengenalan kepada publik. Malam puncak grand final menjadi ajang penuh sorotan. Para finalis tampil dalam sesi penyambutan, dance, serta sesi pengenalan nama, usia, dan asal kelurahan masing-masing.
Michelin berhasil masuk Top 6 dan mendapatkan pertanyaan tentang peran Jakarta dalam mendukung pariwisata berbasis teknologi. Sebagai mahasiswa IT, ia mengenalkan idenya tentang “Pariwisata Augmented Reality” sebagai inovasi promosi wisata masa depan sehingga ia menjadi Juara 2 Jaka Cirebon 2025 sebagai Jaka Pariwisata.
“Alhamdulillah, pengalaman ini luar biasa. Kami bukan hanya tampil, tapi juga belajar tentang tanggung jawab, budaya, dan inovasi,” tuturnya.
Finalis lain seperti Muhammad Firman Hafidhi (Kelurahan Harjamukti) menyampaikan kebanggaannya mendapat gelar Jaka Singlinuwih, dan Rendy Mulyawan (Kelurahan Kecapi) sebagai Jaka Terdigital. Sementara itu, Athari Dhiaurrahman (Kelurahan Sunyaragi) menyandang predikat Jaka Utama 2025. Para finalis lain seperti Dean Alfaris dan Damar Rakasya Widyadhana Utama juga membagikan pengalaman mereka yang penuh pelajaran dan kebersamaan.
Grand Final Jaka Rara Cirebon tahun ini menjadi ajang yang tidak hanya menampilkan kecantikan dan ketampanan luar, tetapi juga kecintaan, pengetahuan, dan integritas para duta muda kota. Sebuah ajang yang membentuk karakter dan memperkuat kebanggaan pada budaya lokal.
