Kediri – Musim kemarau kembali menghadirkan “musim semi” di Kota Kediri. Deretan pohon tabebuya yang mulai dipenuhi bunga berwarna merah muda dan putih menghiasi sejumlah ruas jalan utama, menghadirkan panorama yang memanjakan mata sekaligus mempercantik wajah kota.
Fenomena mekarnya tabebuya mulai terlihat sejak Juli dan diperkirakan mencapai puncaknya pada periode September hingga November. Hamparan bunga yang menghiasi pepohonan di sepanjang jalan membuat banyak warga berhenti sejenak untuk menikmati suasana, bahkan mengabadikannya melalui kamera maupun telepon genggam.
Beberapa lokasi yang menjadi pusat perhatian berada di Jalan Dhoho, Jalan Mauni, Jalan Pemuda, Jalan Kartini, serta sejumlah jalan protokol lainnya. Kehadiran tabebuya yang berbunga serempak memberikan nuansa berbeda bagi kawasan perkotaan, sehingga kerap disamakan dengan pemandangan musim semi di Jepang maupun Korea Selatan.
“Musim kalau ini jauh lebih lebat bunganya, saking lebatnya menarik untuk saya abadikan,” kata Joko Dwi, warga Kelurahan Dandangan, saat ditemui di Jalan Dhoho, Kota Kediri, Rabu (15/7/2026).
Menurut Joko, meski setiap musim kemarau tabebuya selalu bermekaran, tahun ini jumlah bunga yang muncul terlihat lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut membuat suasana jalan semakin indah dan menjadi latar favorit masyarakat untuk berfoto.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri, Indun Munawaroh, menjelaskan bahwa tabebuya memang memiliki karakteristik berbunga saat musim kemarau. Karena itu, keindahannya mulai terlihat menghiasi berbagai sudut Kota Kediri setiap memasuki periode tersebut.
“Selama tiga hingga empat tahun terakhir kami telah menanam sekitar 750 pohon tabebuya yang tersebar di sejumlah ruas jalan di Kota Kediri. Memang tabebuya berbunga bermekaran di saat musim kemarau, atau summer time kata orang bule sehingga mempercantik wajah kota,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanaman tabebuya merupakan bagian dari program penghijauan yang dijalankan Pemerintah Kota Kediri untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperindah kawasan perkotaan. Selain melakukan penanaman, pihaknya juga secara rutin melaksanakan peremajaan pohon di sejumlah jalan utama.
Proses peremajaan dilakukan dengan mengganti pohon yang dinilai berpotensi merusak badan jalan menggunakan tanaman baru sebelum penebangan dilakukan. Upaya tersebut bertujuan menjaga keberlangsungan ruang terbuka hijau (RTH) agar tetap memberikan manfaat ekologis bagi masyarakat.
Indun menambahkan, saat ini luas ruang terbuka hijau di Kota Kediri masih berada di kisaran 11 persen. Pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan angka tersebut hingga memenuhi target minimal 20 persen sebagaimana ketentuan yang berlaku.
“Saat ini capaian ruang terbuka hijau di Kota Kediri masih sekitar 11 persen. Kami masih memiliki target sekitar 9 persen lagi untuk memenuhi ketentuan minimal 20 persen ruang terbuka hijau,” jelasnya.
Ia menyebut Jalan Dhoho dan Jalan Mauni menjadi dua lokasi dengan pemandangan tabebuya yang paling mencolok saat musim berbunga. Panorama tersebut diharapkan tidak hanya memperindah kota, tetapi juga menjadi daya tarik wisata musiman yang mampu menarik minat masyarakat maupun wisatawan untuk berkunjung ke Kota Kediri selama musim kemarau.
