Permata tersembunyi itu bernama Rindang Benua, sebuah desa kecil di Kecamatan Sangatta Selatan, Kutai Timur. Jauh dari hiruk-pikuk kota, desa ini menawarkan ketenangan lewat budaya lokal yang kuat dan alam yang masih perawan.
Pada 2025, Dusun Rindang Benua resmi diusulkan sebagai Desa Wisata Budaya dan Alam oleh Dispar Kutai Timur. Terletak di Jalan Poros Sangatta–Bontang Km 10, desa ini punya segalanya: akar tradisi yang kuat dan lanskap alam yang memesona.
Salah satu daya tarik utamanya adalah perayaan budaya Dayak Kenyah yang masih lestari. Sejak 2009, masyarakat setempat rutin menggelar pesta panen padi tradisional bernama Bengen Lepek Majeu. Acara ini bukan hanya perayaan syukur atas panen, tetapi juga menjadi pentas seni yang menampilkan tarian-tarian khas dan ritual adat seperti U’O Ajau.
“Tradisi ini menjaga jati diri kami sebagai Dayak Kenyah dan menyatukan seluruh warga,” ungkap Kepala Adat setempat dalam sebuah wawancara. Ia menambahkan bahwa dukungan dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian warisan tersebut.
Tak hanya budaya, Rindang Benua juga menyimpan keindahan alam melalui air terjun Jantur Benua Indah. Air terjun ini belum banyak diketahui publik dan menyuguhkan suasana tenang yang cocok untuk berpetualang. Sayangnya, akses menuju lokasi masih terbatas. Jalanan berbatu dan minim fasilitas membuat wisatawan harus bersiap dengan kondisi lapangan.
Meski begitu, semangat warga dan pemerintah dalam menjadikan desa ini sebagai destinasi unggulan terus menyala. Pemerintah telah memasukkan desa ini ke dalam program prioritas pengembangan wisata lokal. Harapannya, pariwisata bisa menjadi penggerak ekonomi desa dan membuka lapangan kerja baru.
Dengan budaya yang kuat dan alam yang otentik, Rindang Benua layak menjadi ikon wisata budaya Kalimantan Timur. Perpaduan tradisi dan alam ini adalah aset berharga yang menanti untuk dinikmati lebih banyak orang.
