Sirene menggema di antara derasnya hujan. Di pinggir kota, tenda pengungsian berdiri dalam gelap, hanya diterangi lampu darurat. Aroma bubur dari dapur umum menguar. Di sana, relawan bernama Rafi, dengan jaket basah dan mata sembab, baru saja kembali dari evakuasi malam itu.
Ia membawa nenek tua yang hampir terjebak banjir, menyerahkan selimut ke anak-anak yang menggigil. Rafi bukan siapa-siapa. Ia seorang pegawai kantor biasa di siang hari, namun begitu malam turun dan langit berubah gelap, ia berubah menjadi penolong di garis depan.
Siaga Sepanjang Malam
Musim hujan bagi relawan berarti siaga tanpa batas. Tak ada libur akhir pekan, tak ada waktu tidur yang pasti. Hujan deras dan laporan warga bisa datang kapan saja.
“Kadang saya baru pulang, lalu langsung ganti baju, cium anak saya, dan balik ke posko,” kata Rafi.
Posko siaga jadi rumah kedua. Banyak relawan seperti Rafi membagi waktu di antara keluarga, pekerjaan, dan tugas kemanusiaan. Lelah tak bisa dihindari, tapi rasa dibutuhkan membuat mereka terus melangkah.
Pelatihan Demi Tindakan Nyata
Relawan PMI dan Tagana bukan sekadar orang baik hati. Mereka dibekali pelatihan: mulai dari pertolongan pertama, evakuasi korban, logistik, komunikasi darurat, hingga pengelolaan dapur umum.
Pelatihan ini penting karena di lapangan, keputusan detik bisa menyelamatkan nyawa. Di balik aksi mereka, ada simulasi, edukasi, hingga latihan menghadapi berbagai skenario. Mereka tahu cara mendirikan tenda dalam hujan, menenangkan anak-anak yang trauma, dan menangani lansia dengan hati-hati.
Harapan dari Balik Peluh
Rafi masih mengingat malam saat ia menggendong balita melewati air setinggi dada. Si anak menangis tak henti, memanggil ibunya.
“Saat saya kasih dia roti hangat dan selimut, dia cuma bilang, ‘Terima kasih, mas,’ sambil peluk saya. Rasanya hati saya pecah,” katanya.
Meski tubuh pegal, pakaian basah, dan tidur tak tentu, mereka tetap hadir. Dukungan dari keluarga jadi penguat. “Istri saya bilang: kamu capek, tapi kamu bikin orang lain bisa tidur tenang. Itu cukup,” ucap Rafi.
Harapan mereka sederhana: masyarakat lebih siap hadapi bencana. Tidak buang sampah sembarangan. Tahu jalur evakuasi. Berani bantu tetangga.
Mereka tak digaji. Tak selalu disorot kamera. Tapi merekalah wajah kemanusiaan yang bekerja dalam senyap.
