Jember – Aliansi Perjuangan Honorer Independen (APHI) Kabupaten Jember berganti kepengurusan. Ratih Diah Palupi, honorer bidan Puskesmas Sukowono, terpilih sebagai ketua periode 2023-2027.
Pemilihan ketua APHI dilaksanakan melalui proses pemilihan langsung, oleh 40 peserta yang mewakili puskesmas se-Kabupaten Jember.
Hasil pemilihan menunjukkan, Ratih Diah memperoleh dukungan suara 32, sementara Dedi Hardianto honorer Puskesmas Sumbersari hanya mendapatkan 8 suara.Ratih Diah mengaku bahwa amanah yang dipercayakan padanya adalah berat. Namun, ia bertekad untuk melanjutkan perjuangan APHI demi memperjuangkan nasib honorer tenaga kesehatan di Kabupaten Jember.
“Tetapi demi perjuangan dan dukungan teman-teman, bismillah,” kata Ratih Diah.
Perjuangan APHI, kata Ratih Diah, tidak lepas dari ketua sebelumnya, Rendra Kurniawan, yang telah gigih berjuang hingga mendapat SK Bupati tentang pengangkatan honorer tenaga kesehatan menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Mas Rendra adalah peletak dasar dari pergerakan dan perjuangan ini, kami hanya tinggal melanjutkan. Alhamdulillah beliau sudah menjadi ASN,” katanya.
Ratih Diah juga membeberkan, ruh perjuangan APHI adalah perjuangan khusus untuk honorer.
“Kita ingin berjuang bersama. Sesuai namanya independen. Kami ingin independen tanpa intervensi dari pihak manapun,” ucapnya.
Kendati begitu, perempuan lulusan Poltekes Malang ini mengaku tetap siap, bersinergi dengan pihak manapun.
“Termasuk dengan pemerintah, lintas organisasi dan masyarakat umum. Selama masih bisa menguntungkan, kita terbuka,” harapnya.
Sebagai Aktivis Kesehatan dirinya melihat, selama ini tenaga kesehatan masih terkotak-kotak.
“Selama kita tidak kompak dan fanatik kelompok. Melalui pengurus yang baru, mari kembali bersatu,” pintanya.
Pihaknya berharap, tenaga kesehatan bisa bersatu lewat organisasi yang ia pimpin.
“Kita organisasi legal, berbadan hukum Kemenkumham. Jadi, tidak usah ragu untuk bergabung berjuang bersama kami,” tutur Ratih Diah.
Pergantian kepengurusan APHI ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi tenaga kesehatan untuk bersatu dan berjuang bersama untuk memperjuangkan nasib mereka.
