Tasikmalaya – Seporsi makan siang yang semestinya menjadi penopang energi justru berubah seperti alarm yang berdentang di ruang kelas. Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyeret nama SMAN 1 Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, setelah puluhan siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan dan harus mendapatkan penanganan medis. Laporan awal menyebut para pelajar merasakan mual, pusing, muntah, hingga sesak napas setelah menyantap hidangan yang dibagikan di sekolah.
Peristiwa ini mengemuka pada Kamis (9/4/2026), namun sejumlah laporan menyebut gejala mulai dirasakan setelah siswa menyantap menu MBG pada Rabu (8/4/2026). Lokasi kejadian berada di SMAN 1 Cisayong, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya. Sebagian besar siswa yang mengeluh sakit dibawa ke Puskesmas Cisayong oleh guru untuk mendapatkan pertolongan pertama, sementara setidaknya satu siswi dirujuk ke RSUD KHZ Musthafa, Singaparna, karena memerlukan penanganan lanjutan. Perbedaan penyebutan waktu dalam sejumlah laporan mengarah pada satu benang merah: makanan dibagikan sehari sebelumnya, lalu keluhan memuncak dan ramai diberitakan pada Kamis malam.
Laporan awal menyebut jumlah siswa terdampak sempat diperkirakan mencapai puluhan hingga mendekati ratusan orang. Namun, hingga kini belum ada angka pasti yang dikonfirmasi secara resmi oleh pihak berwenang. Di sisi lain, terdapat juga laporan yang menyebut hanya sebagian kecil dari total ratusan siswa penerima MBG yang mengalami gejala. Perbedaan data ini menunjukkan perlunya verifikasi lanjutan dari instansi terkait agar informasi yang beredar tidak menimbulkan kepanikan.
“Kami kaget, awalnya hanya mengeluh pusing, lalu muntah-muntah. Malamnya kondisi semakin lemah,” ujar salah seorang orang tua siswa yang anaknya ikut terdampak.
Keterangan tersebut menguatkan dugaan bahwa gejala tidak muncul secara langsung, melainkan beberapa jam setelah makanan dikonsumsi. Menu yang disantap siswa dilaporkan berupa nasi, sop ayam, tempe goreng, dan buah melon. Dari berbagai keterangan yang muncul, hidangan sop menjadi salah satu yang paling disorot sebagai kemungkinan sumber masalah, meskipun belum ada hasil pemeriksaan resmi yang memastikan penyebab pasti.
Kondisi di Puskesmas Cisayong sempat dipenuhi siswa yang menjalani penanganan medis. Beberapa di antaranya terlihat lemas dan harus beristirahat sambil mendapatkan perawatan. Situasi ini menunjukkan bahwa dampak yang ditimbulkan cukup serius sehingga memerlukan respons cepat dari tenaga kesehatan dan pihak sekolah.
Sejumlah pihak juga mulai mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG, terutama terkait standar kebersihan dan distribusi makanan. Dugaan kelalaian dalam proses pengolahan, penyimpanan, atau pengiriman makanan menjadi perhatian utama yang harus ditelusuri lebih lanjut.
Di tengah tujuan mulia program pemenuhan gizi bagi pelajar, insiden ini menjadi pengingat bahwa keamanan pangan merupakan aspek krusial yang tidak boleh diabaikan. Tanpa pengawasan ketat dan sistem kontrol yang jelas, program yang dirancang untuk menyehatkan justru berpotensi menimbulkan risiko bagi penerimanya.
