Jakarta — Bagi umat Islam, Hari Raya Idul Fitri merupakan tanda berakhirnya bulan puasa Ramadan dan awal bulan Syawal. Momen itu menjadi kesempatan untuk bersenang-senang dan salah satu hari di mana puasa sunnah tidak boleh terlaksanakan bagi semua Muslim.
Umat beriman di seluruh dunia menandai datangnya hari itu dengan beragam kegiatan, berdasarkan karakter dan budaya masing-masing negara dan bangsa. Namun, secara keseluruhan umat Muslim akan memilih merayakan hari besar terbesar itu dengan mengunjungi anggota keluarga. Memberi penghormatan kepada orang-orang terkasih yang telah meninggal dan menikmati makanan yang pantang menikmati selama siang hari di bulan Ramadan.
Dilansir di Middle East Eye, Selasa (3/5/2022), salah satu elemen yang menarik dari festival Ramadan untuk kalangan tua dan muda adalah mengenakan pakaian baru atau tradisional. Di Yaman, terlihat sekelompok pria dalam pakaian Sanaa mengenakan thobes dan jambiya, belati tradisional kecil yang melambangkan kekuatan dan kehormatan, terselipkan di ikat pinggang mereka.
Muslim membayar uang untuk amal, yang terkenal sebagai zakat fitrah, sebelum mereka memulai ibadah khusus yang menyebutnya Salat Ied. Mengerjakan ibadah tersebut hanya pada pagi hari Idul Fitri dan secara tradisional terlaksanakan di luar ruangan, jika cuaca memungkinkan.
Di Bishkek, Kirgistan, umat Muslim setempat termasuk presiden negara itu Sadyr Japarov. Terlihat melaksanakan ibadah dan shalat Ied bersama, dengan mengenakan ak-kalpaks atau topi kain tradisional yang unik di negara itu.
Di sisi lain, menggunakan henna atau mehndi dalam budaya Muslim pada saat-saat tertentu, utamanya saat perayaan. Meski seringnya hal tersebut untuk pernikahan, beberapa komunitas di Somalia, Malaysia, Timur Tengah dan Asia Selatan juga. Menggunakannya untuk menghias tangan mereka, dengan pola rumit untuk menandai Idul Fitri.
Beberapa Muslim lainnya juga memiliki tradisi mengunjungi kuburan untuk mengenang orang-orang terkasih. Yang telah meninggal sebagai tanda penghormatan setelah salat Idul Fitri. Beberapa keluarga di Indonesia terbiasa berkumpul untuk membaca ayat-ayat Alquran sebelum melanjutkan perayaan hari itu.
Balon dan mainan lainnya biasanya dijual oleh pedagang kaki lima pada hari itu, menambah warna kemeriahan dan membawa kegembiraan bagi anak-anak. Seorang anak di Gaza terlihat bermain dengan balon dan di sini seorang anak laki-laki mengenakan bisht tradisional Palestina (jubah tipis yang ia kenakan di atas thobe) dan keffiyeh ia gendong di pundak seorang kerabat di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.
Kolega dan keluarga menyiapkan makanan khusus dan makanan penutup pada Hari Raya Idul Fitri, untuk menghidangkan dan membagikan bersama kerabat. Di distrik Sadriya Baghdad, orang-orang membeli geymar, yaitu krim kental kental yang secara tradisional terbuat dari susu kerbau. Kelezatannya biasanya ternikmati dengan siraman madu dan tersajikan dengan kahi, salah satu jenis pastry.
