Mojokerto – Di tengah aroma adonan yang mengembang dan semangat kemandirian yang menguat, Pondok Pesantren Segoro Agung kembali menegaskan perannya sebagai ruang pendidikan yang menyatu dengan dunia usaha. Seperti bara yang dijaga agar tak padam, pesantren ini tak henti mengembangkan UMKM sebagai ikhtiar membentuk santri berdaya. Terbaru, berdiri unit usaha Roti Segoro Agung di dalam kompleks pondok, menjadi bukti bahwa “ngaji” dan “mandiri” dapat berjalan beriringan.
Peluncuran Omah Roti Segoro Agung dilakukan di lingkungan Pondok Pesantren Segoro Agung, Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (7/2/2026). Unit usaha ini digagas sebagai sarana pembelajaran kewirausahaan santri yang terintegrasi dengan kurikulum pesantren. Siapa yang terlibat bukan hanya pengelola, melainkan para santri sendiri; apa yang dilakukan adalah produksi dan pemasaran roti; kapan dimulai bertepatan dengan peluncuran unit; di mana beroperasi di kompleks pesantren; mengapa dibentuk untuk membangun kemandirian ekonomi; dan bagaimana dijalankan melalui pelatihan produksi, manajemen, hingga pemasaran.

Dalam kesempatan tersebut, pendiri sekaligus pengasuh pesantren, KH. Bimo Agus Sunarno, menyampaikan pesan kuat tentang arah pendidikan pesantren di masa depan.
“Santri harus tangguh dan siap menyongsong Generasi Emas 2045. Prinsip kami sederhana: Yo Ngaji Yo Mandiri. Ilmu agama menjadi pondasi, kemandirian ekonomi menjadi penguat,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa UMKM pesantren bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan bagian dari strategi besar pendidikan karakter dan keterampilan. Roti Segoro Agung dirancang sebagai laboratorium usaha: santri belajar memilih bahan, menjaga kualitas produksi, mengemas produk, hingga membaca peluang pasar. Dengan demikian, lulusan pesantren diharapkan tak hanya fasih dalam keilmuan agama, tetapi juga siap berdikari di tengah tantangan ekonomi.
Pengelola pesantren menjelaskan bahwa unit roti ini akan memproduksi aneka roti harian dengan bahan baku berkualitas dan harga terjangkau. Tahap awal pemasaran menyasar lingkungan sekitar pesantren dan jaringan wali santri. Ke depan, distribusi akan diperluas ke pasar lokal Mojokerto dan sekitarnya, termasuk pemanfaatan kanal digital untuk promosi.
Dampak sosialnya pun terasa. Kehadiran UMKM pesantren membuka ruang praktik kerja bagi santri, menggerakkan ekonomi lokal, serta memperkuat citra pesantren sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Model ini sejalan dengan semangat kemandirian pesantren yang kini kian relevan di tengah dinamika ekonomi nasional.
Dengan diluncurkannya Roti Segoro Agung, pesantren ini menegaskan komitmennya membina santri yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing. Dari dapur roti di lingkungan pesantren, harapan itu mengembang—menuju generasi emas yang mandiri dan berkarakter.
