Bondowoso – Semangat kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) terus menyala di Kabupaten Bondowoso. Sabtu (1/11/2025), PMII Rayon Rabi’ah Al-Adawiyah Komisariat RBA IAI At-Taqwa Bondowoso menggelar Follow Up Kaderisasi Pasca-MAPABA bertajuk “Al-Hayah Al-Harakah: Sublimasi Nilai antara Spirit, Kemauan, dan Moralitas” di Paseban depan Monumen Gerbong Maut, Alun-Alun Raden Bagus Asra, Bondowoso.
Kegiatan reflektif ini berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme kader baru yang baru saja menyelesaikan tahap dasar kaderisasi. Forum ini dirancang sebagai ruang pembelajaran lanjutan agar kader muda tidak hanya berhenti pada seremoni penerimaan anggota, tetapi mampu menginternalisasi nilai-nilai perjuangan dan spiritualitas PMII secara mendalam.
Feonaldo Alfindani, Ketua Bidang I Kaderisasi PMII Rayon Rabi’ah Al-Adawiyah, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian penting dari kesinambungan kaderisasi organisasi.
“Proses kaderisasi tidak berhenti di MAPABA. Justru setelahnya, kader harus memperkuat nilai moral, spiritual, dan tanggung jawab sosialnya,” ujarnya.
Sebagai narasumber utama, Rifky Gimnastiar membuka diskusi dengan pesan inspiratif yang menggugah semangat para peserta.
“Hidup ini jangan sekadar hidup, tapi hiduplah yang produktif untuk senantiasa move up, level up, dan grow up,” ucapnya disambut tepuk tangan meriah.
Rifky menegaskan makna tema besar kegiatan tersebut, bahwa “Al-Hayah Al-Harakah” berarti hidup adalah pergerakan. “Hidup ini adalah proses yang terus berjalan. Sebagai kader baru, kalian sekarang menyandang gelar formal sebagai kader mu’taqid — dan tanggung jawab itu harus dijalani dengan semangat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya ketahanan semangat dalam proses perjuangan. “Semangat itu naik turun, tapi yang terpenting adalah bertahan dalam kondisi apa pun,” ujarnya.
Dalam bagian lain, Rifky menekankan nilai loyalitas terhadap organisasi. “Kesetiaan terhadap organisasi diuji bukan ketika semua orang memuji, tapi ketika organisasi dipandang sebelah mata oleh publik,” tegasnya.
Menceritakan pengalaman pribadinya semasa di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Rifky mengisahkan bagaimana ia dulu takut berbicara di forum. “Dulu jangankan berbicara, mengangkat tangan saja saya gemetar. Tapi dari proses itu, saya belajar bahwa kesungguhanlah yang membentuk kemauan kuat,” kenangnya.
Forum diskusi berjalan dinamis dengan interaksi santai antara narasumber dan peserta. Kader-kader angkatan ke-25 aktif bertanya mengenai isu sosial, peran mahasiswa, serta sikap kritis terhadap pemerintah. Rifky menegaskan bahwa sikap kritis tidak berarti permusuhan.
“Kritis yang transformatif bukan tanda kebencian, tapi tanda cinta terhadap sesuatu yang perlu diperbaiki,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa peran kader PMII sebagai agent of social control adalah mengawal kebijakan publik agar berpihak pada rakyat. “Kalau pemerintah benar, ngapain kita kritik? Tapi kalau tidak pro-rakyat, itu bagian dari tanggung jawab moral aktivis,” ujarnya.
Rifky juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam aksi. “Demonstrasi itu ekspresi cinta terhadap keadilan, asal jangan arogan atau anarkis. Etika dalam aksi adalah ciri aktivis yang beradab,” katanya menegaskan.
Menutup forum, Rifky memberi pesan motivatif agar kader terus melanjutkan proses ke tingkat berikutnya. “Analisis sosial dan teknik aksi akan kalian pelajari lebih dalam di PKD. Maka bertahanlah, nikmati setiap alurnya, karena Al-Hayah Al-Harakah — hidup adalah pergerakan,” pungkasnya penuh semangat.
