Mojokerto – Menjelang Hari Raya Idulfitri yang biasanya identik dengan lonjakan pesanan pakaian, suasana berbeda justru dirasakan sebagian penjahit di Kabupaten Mojokerto. Alih-alih kebanjiran order, sejumlah pelaku usaha jahit rumahan kini menghadapi penurunan pelanggan, seiring perubahan pola belanja masyarakat yang semakin bergeser ke platform daring.
Kondisi tersebut dialami Sri Handayani (37), seorang penjahit rumahan di Dusun Grogol, Desa Kepuhpandak, Kecamatan Kutorejo. Saat ditemui pada Senin (10/3/2026), ia masih sibuk menyelesaikan pesanan di ruang kerjanya yang sederhana. Namun, aktivitas itu tidak sepadat tahun-tahun sebelumnya menjelang Lebaran. Menurutnya, jumlah pelanggan yang datang untuk menjahit pakaian baru mengalami penurunan cukup signifikan.
“Sekarang yang menjahit tidak sebanyak dulu. Banyak yang memilih beli baju jadi lewat toko online,” ujar Sri Handayani (37).
Ia menjelaskan, pada periode Ramadan di tahun-tahun sebelumnya, pesanan pakaian seperti gamis, baju koko, hingga seragam keluarga meningkat drastis. Namun kini, tren tersebut mulai berubah. Kemudahan akses belanja online, variasi model yang beragam, serta harga yang kompetitif membuat masyarakat cenderung memilih pakaian jadi dibandingkan memesan secara khusus ke penjahit.
Sri menambahkan, pelanggan yang masih setia menggunakan jasanya sebagian besar merupakan pelanggan lama. Mereka tetap datang karena sudah mengenal kualitas jahitan serta merasa lebih nyaman dengan pakaian yang dibuat sesuai ukuran tubuh.
“Kalau sekarang yang menjahit kebanyakan pelanggan lama, karena mereka sudah tahu ukuran dan model yang cocok,” katanya.
Meski mengalami penurunan, Sri masih menerima beberapa pesanan, terutama untuk kebutuhan khusus seperti pakaian keluarga saat Lebaran atau busana yang memerlukan ukuran tertentu. Ia tetap berusaha mempertahankan kualitas jahitan sebagai nilai utama yang tidak bisa didapatkan dari produk massal.
Sementara itu, salah satu pelanggan, Indah (35), mengakui bahwa tren belanja masyarakat memang telah berubah. Menurutnya, membeli pakaian secara online dinilai lebih praktis karena tidak perlu datang langsung dan memiliki banyak pilihan model yang bisa disesuaikan dengan selera.
“Kalau beli online memang lebih praktis dan pilihannya banyak. Tapi untuk acara tertentu saya tetap menjahit supaya ukurannya lebih pas,” ujar Indah.
Fenomena ini mencerminkan tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil di tengah perkembangan digitalisasi. Perubahan perilaku konsumen yang semakin mengandalkan teknologi memaksa pelaku usaha tradisional untuk beradaptasi agar tetap bertahan. Beberapa penjahit bahkan mulai mencoba memasarkan jasa mereka melalui media sosial untuk menjangkau pelanggan baru.
Sri Handayani berharap usaha jahit rumahan tetap mendapat tempat di hati masyarakat. Ia meyakini bahwa keunggulan pakaian hasil jahitan, seperti kenyamanan dan kesesuaian ukuran, masih menjadi alasan kuat bagi sebagian orang untuk tetap menggunakan jasa penjahit, terutama pada momen spesial seperti Idulfitri.
Dengan situasi yang terus berubah, para penjahit di Mojokerto kini dituntut lebih kreatif dalam mempertahankan usaha mereka. Meski tantangan semakin besar, harapan agar pesanan kembali meningkat menjelang Lebaran tetap menjadi semangat yang dijaga.
