Cirebon – Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Korea di Indonesia (Pelbakori) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ketiga yang dilaksanakan di Hall Islamic Center Komplek Masjid Raya At Taqwa Kejaksan Kota Cirebon, Minggu (4/12/2022).
Rakernas kali ketiga ini mengusung tema Penguatan Organisasi Pelbakori Dalam Rangka Peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) dan Pemberdayaan PMI Purna.
Menurut Ketua Umum Pelbakori Mohammad Rosidi (Didi), LPK bahasa yang tergabung dalam Pelbakori adalah LPK resmi legalitasnya serta mengikuti aturan Pemerintah.

“Legalitas resmi LPK diantaranya adanya ijin LPK yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan atau Kementerian Tenaga Kerja di wilayahnya masing-masing. Momen ini juga bagian dari deklarasi untuk memperbaharui pakta integritas yang sebelumnya sudah pernah dijalankan,” kata Didi.
Didi menyebut, salah satu poin dari pakta integritas yaitu LPK hanya boleh menarik biaya pelatihan sesuai tupoksinya, untuk biaya proses penempatan bukan ranah LPK.
“Sebagai assosiasi kami menjamin semua CPMI yang ingin kerja di Korea untuk melatih bahasa supaya lulus tes eps topik itu ada di LPK yang menjadi anggota Pelbakori, hal ini juga sesuai amanat Munas saat itu, dimana membuka penempatan dan penambahan kuota merupakan PR, ” terangnya.
Alhamdulillah tahun ini, lanjut Didi, kuota pekerja migran di Korea meningkat 40 ribu atau sekitar 110 ribu pekerja asing dari 15 negara sekitar. Tentunya ini harus kita sambut dengan peningkatan kualitas CPMI yang bagus.
“Kita tinggal mendorong Pemerintah untuk bagaimana memperjuangkan kuota, bagaimana kuota yang besar bisa banyak didapat untuk Indonesia. Sebagai penyedia CPMI, semakin banyak kuota berarti poin standar kelulusan tes eps topik yang harus dikejar semakin kecil,” urainya.
Terkait purna PMI, Didi juga menyampaikan bahwa lebih dari 70 persen anggota Pelbakori adalah para PMI Purna, mereka yang pernah jadi PMI mestinya menularkan kemampuan kepada anak didiknya bagaimana mereka sukses setelah pulang dari Korea.
“Jika anggota Pelbakori adalah para PMI Purna, Pemerintah bisa membimbing, mempersiapkan PMI Purna dalam hal skill dan lainnya sebelum berangkat, jangan setelah pulang dari Korea baru ada pembinaan. Penyiapan itu sebelum berangkat bukan setelah pulang,” tegas Didi.
Untuk kendala yang dihadapi Didi mengatakan hanya pada proses sistem karena kemarin pandemi jadi ada penumpukan data Alhamdulillah sekarang sudah jalan.
“Kita berharap bisa normal lagi proses selanjutnya hingga CPMI dinyatakan terbang tidak ada kendala, kita mendukung Pemerintah dengan upaya percepatan penempatan. Apalagi bocoran untuk kuota Indonesia ada 10 ribu untuk sektor manufaktur dan 2 ribu untuk sektor fishing. Kuota sebesar itu jangan berhenti di tahun ini semoga akan ada tes lagi di tahun 2023 dengan kuota lebih banyak. Semakin banyak tes eps topik program G to G Korea Selatan dilaksanakan akan ada peluang besar CPMI masuk dalam daftar roster perusahaan di Korea”, pungkasnya.
Dalam pelaksanaan rakernas tersebut panitia mengundang nara sumber dari Baintelkam Mabes Polri yang dihadiri oleh Kombes Pol Ahmad Ibrahim, Kaprodi Bahasa Korea Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Didin Syamsudin yang juga sebagai pengawas Pelbakori, serta mitra terkait Pelbakori.
Di sela sela kegiatan Rakernas Pelbakori, juga diberikan sumbangan kepada anak yatim dan bantuan spontan untuk korban gempa Cianjur.
