Mojokerto – Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, Perum Perhutani KPH Jombang menggelar acara “Ngopi Bareng” bersama sejumlah media, Selasa malam (24/9/2024). Bertempat di kantor BKPH Jabung Jatirejo, di Jalan Raya Trowulan, Mojokerto, acara ini menjadi momen penting untuk mempererat hubungan antara pihak Perhutani dan awak media sekaligus membuka diskusi terkait pengelolaan hutan dan tantangan yang dihadapi.
Dengan suasana informal namun penuh makna, acara ini dihadiri oleh Kepala Perhutani Jombang, Kelik Sujatmiko, serta tim dari berbagai divisi. Para peserta, termasuk petugas lapangan dan kantor, berbagi pandangan dan harapan untuk masa depan hutan di wilayah Jombang dan sekitarnya.
Sinergi Perhutani dan Media untuk Pengelolaan Hutan Berkelanjutan
Kelik Sujatmiko, dalam sambutannya, menegaskan pentingnya sinergi antara Perhutani dan media dalam mengawal program-program pengelolaan hutan. Ia menyampaikan bahwa pengelolaan hutan tidak hanya berfokus pada aspek kelestarian lingkungan, tetapi juga berhadapan dengan tantangan-tantangan sosial dan ekonomi yang membutuhkan peran serta dari berbagai pihak, termasuk media.
“Kami berharap teman-teman media dapat terus berkontribusi dalam mengawal pelaksanaan pekerjaan ini, agar kita semua tetap konsisten mengikuti aturan yang berlaku. Kritik dan masukan dari media sangat kami butuhkan untuk perbaikan di masa depan,” ujar Kelik dengan penuh harapan.
Kehadiran media dalam pengelolaan hutan, menurutnya, bukan sekadar pemberitaan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam mengedukasi masyarakat. Dengan informasi yang akurat dan terpercaya, media berperan penting dalam menyampaikan perkembangan terkait perhutanan kepada publik.
Refleksi Kinerja dan Tantangan Pengelolaan Hutan
Sesi “Ngopi Bareng” ini juga menjadi ajang bagi Perhutani KPH Jombang untuk merefleksikan kinerja mereka dalam beberapa tahun terakhir. Kelik Sujatmiko secara terbuka mengajak rekan-rekan media untuk turut memberikan evaluasi terhadap program-program yang sudah berjalan.
“Tolong untuk rekan-rekan media berikan evaluasi dan saling mengingatkan apa yang perlu dibenahi. Dengan begitu, kita bisa terus memperbaiki kinerja dan berkomitmen menjaga kelestarian hutan,” tambahnya.
Ia juga menyinggung tantangan besar yang dihadapi dalam mengelola kawasan hutan, seperti praktik illegal logging, perambahan lahan, dan ancaman kebakaran hutan. Tantangan-tantangan ini membutuhkan pengawasan ketat serta keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat dan media, untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan hutan.
Media Apresiasi Langkah Perhutani
Di sisi lain, para awak media yang hadir mengapresiasi keterbukaan dan inisiatif Perhutani dalam membangun komunikasi yang baik. Salah satu jurnalis lokal menyampaikan bahwa acara seperti ini sangat membantu media untuk memahami lebih dalam persoalan-persoalan yang dihadapi Perhutani, sehingga dapat memberitakan dengan lebih objektif dan informatif.
“Kami sangat menghargai langkah Perhutani yang terus berupaya membangun hubungan baik dengan media dan masyarakat. Ini bukan hanya tentang pengelolaan hutan, tapi juga tentang menjaga kepercayaan publik melalui transparansi dan keterbukaan informasi,” ungkap seorang jurnalis yang turut hadir dalam acara tersebut.
Harapan untuk Masa Depan
Acara “Ngopi Bareng” ini diharapkan menjadi langkah awal dari kerjasama yang lebih erat antara Perhutani dan media. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan dan mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut terlibat aktif dalam menjaga alam. Melalui komunikasi yang baik dan evaluasi bersama, pengelolaan hutan di wilayah Jombang dan sekitarnya diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
“Semoga kolaborasi ini terus terjaga, dan kita bisa bersama-sama menghadapi tantangan yang ada demi hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera,” pungkas Kelik Sujatmiko, mengakhiri pertemuan malam itu dengan penuh optimisme.
Dengan agenda serupa yang direncanakan di masa mendatang, Perhutani KPH Jombang berkomitmen untuk terus meningkatkan keterbukaan dan sinergi dengan media, demi masa depan hutan Indonesia yang lebih baik.
