Mojokerto – Upaya memberantas stunting di pedesaan Mojokerto kembali menunjukkan geliat positif. Seperti sebuah benih yang mulai tumbuh subur, Program Pelita Jetis untuk Peduli Cegah Stunting resmi digelar di Balai Desa Banjarsari, Kecamatan Jetis, pada Rabu (30/7/2025). Program ini menjadi momentum kolaboratif yang menggabungkan kekuatan lintas sektor demi menyehatkan masa depan anak-anak Indonesia.
Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama antara Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kecamatan Jetis, Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma), Unit Pengelola Kegiatan (UPK) Jetis, CSR perusahaan, Puskesmas Kupang, Puskesmas Jetis, serta pemerintah desa se-Kecamatan Jetis. Pelaksanaan bantuan sosial ini menyasar langsung pada kelompok sasaran, yakni 35 keluarga yang masuk kategori berisiko stunting di Desa Banjarsari.
Kepala Desa Banjarsari, Subagio, dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan yang digulirkan kepada warganya. Ia menyebut program ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam menciptakan generasi yang lebih sehat dan tangguh.
“Alhamdulillah, kita mendapatkan program Pelita Jetis berupa bantuan untuk keluarga berisiko stunting. Bantuan ini berasal dari CSR PT Ajinomoto, Bumdesma Kecamatan Jetis, serta kontribusi siswa SMK Jetis untuk ibu hamil. Harapan saya, program ini bermanfaat bagi ibu hamil dan balita, sehingga Mojokerto bebas stunting,” ujar Subagio dengan penuh harap.
Bantuan sosial yang disalurkan mencakup paket makanan sehat dan gizi tambahan bagi ibu hamil dan balita, serta dukungan psikososial melalui edukasi mengenai pentingnya pola makan bergizi seimbang dan pemeriksaan kesehatan rutin. Program ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara sektor pemerintahan, swasta, dan masyarakat dapat menjadi kekuatan besar dalam melawan ancaman stunting.
Selain penyaluran bantuan, acara ini juga dirangkai dengan survei awal untuk program bedah rumah dari pihak Kodam dan Korem, yang turut mendukung peningkatan kualitas hidup warga melalui perbaikan hunian layak. Kehadiran unsur TNI ini semakin memperkuat dimensi sosial dan pembangunan dalam kegiatan tersebut.
Kehadiran para pejabat dan tokoh masyarakat turut menambah semangat pelaksanaan program. Camat Jetis, Danramil Jetis, Kapolsek Jetis, Kepala Desa Banjarsari, perwakilan Bumdesma, Lembaga Keswadayaan Desa (LKD) Jetis, serta masyarakat luas tampak hadir dan antusias menyambut program yang sarat manfaat ini.
Menurut Camat Jetis, kegiatan semacam ini merupakan perwujudan nyata dari semangat gotong royong dan kolaborasi dalam pembangunan kesehatan masyarakat. “Peran semua pihak sangat penting untuk menurunkan angka stunting. Tidak bisa hanya mengandalkan satu sektor saja. Kami berharap program ini terus berlanjut di desa-desa lain,” ujar Camat Jetis di sela acara.
Sementara itu, pihak Puskesmas Jetis menyatakan bahwa identifikasi keluarga berisiko telah melalui serangkaian pemeriksaan medis dan data lapangan. Mereka memastikan bahwa penerima bantuan benar-benar termasuk kelompok rawan stunting, baik karena faktor gizi, ekonomi, maupun kondisi lingkungan tempat tinggal.
Stunting atau kekerdilan pada anak menjadi salah satu masalah serius yang tengah dihadapi Indonesia, termasuk di wilayah Jawa Timur. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, angka stunting nasional masih berada di atas ambang batas ideal WHO, yaitu 14 persen. Oleh karena itu, program seperti Pelita Jetis sangat strategis dalam mempercepat pencapaian target penurunan stunting nasional.
Program Pelita Jetis juga melibatkan anak-anak SMK Jetis sebagai bagian dari pendidikan karakter dan sosial. Para siswa menyumbangkan kebutuhan ibu hamil sebagai bentuk kepedulian generasi muda terhadap persoalan bangsa. Keterlibatan mereka menjadi simbol bahwa perjuangan melawan stunting bukan hanya milik tenaga kesehatan atau pemerintah, tetapi seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu penerima bantuan, Siti Nurhalifah (28), menyampaikan rasa terima kasihnya. Ia mengaku sangat terbantu dengan dukungan yang diberikan. “Saya sedang hamil tujuh bulan dan bantuan ini sangat membantu, terutama untuk kebutuhan gizi. Saya berharap anak saya lahir sehat dan tidak terkena stunting,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya warga yang hadir sejak pagi, membawa serta anak-anak mereka untuk mendapatkan pemeriksaan dan edukasi dari tim medis. Acara juga diramaikan dengan demo makanan sehat dan sesi konsultasi gizi yang dipandu oleh ahli dari Puskesmas.
Program ini menjadi bukti bahwa keberhasilan penanganan stunting membutuhkan pendekatan menyeluruh, dari perbaikan gizi, edukasi masyarakat, intervensi lingkungan, hingga pemberdayaan sosial dan ekonomi. Mojokerto, melalui Kecamatan Jetis, telah menunjukkan bagaimana langkah konkret dan kolaboratif bisa membawa perubahan.
Dengan semangat gotong royong dan partisipasi aktif semua pihak, Desa Banjarsari berharap bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam menjalankan strategi penanggulangan stunting. Program ini diharapkan tidak hanya berhenti pada bantuan, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan demi masa depan anak-anak Mojokerto yang sehat dan berkualitas.
