Umat ini seperti satu tubuh, sabda Rasulullah SAW. Jika satu bagian terasa sakit, maka bagian lainnya akan merasakan hal yang sama. Namun bagaimana jika tubuh itu tidak lagi bereaksi sebagaimana mestinya?
Bayangkan sebuah tangan yang tertusuk paku. Rasa sakitnya seharusnya direspons oleh otak, dan tangan lain segera bergerak mencabut paku tersebut agar luka bisa disembuhkan. Tapi bagaimana jika paku itu dibiarkan tertancap, sementara kita hanya memberi salep dan perban di sekeliling luka? Apakah itu menyembuhkan? Tentu tidak. Justru luka akan semakin parah.
Inilah yang sedang terjadi dengan umat Islam dan Baitul Maqdis.
Tanah suci itu sedang tertusuk penjajahan Zionis. Tapi alih-alih mencabut sumber sakit, umat Islam justru sibuk membalut nyeri dengan bentuk keprihatinan yang tidak menyentuh akar masalah.
Fenomena ini tak jauh beda dengan gajah sirkus dan kutu dalam toples.
Gajah yang kuat dan bebas di alam, setelah dilatih bertahun-tahun, tidak lagi berusaha kabur — bahkan ketika rantainya telah dilepas.
Begitu pula kutu yang mampu melompat ratusan kali tinggi tubuhnya, menjadi terbiasa dengan lompatan rendah setelah ditutup dalam toples.
Apa yang mengikat mereka? Bukan kekuatan fisik, tapi batas dalam pikiran.
Dan umat Islam saat ini pun demikian. Terjebak dalam narasi kelemahan, terlalu ragu dengan sejarah, enggan melihat jauh pada potensi diri. Padahal peradaban gemilang pernah dibangun oleh umat ini. Tapi kini, banyak yang takut bermimpi besar, bahkan takut berharap pada kemenangan Islam.
Kondisi Baitul Maqdis bukan hanya soal geopolitik. Ia adalah cermin kondisi pikiran umat. Ketika umat membiarkan rasa sakit ini berlangsung tanpa mencabut akar penjajahannya, itu artinya kita sedang membiarkan tubuh ini rusak perlahan.
Kebangkitan tidak datang dari rasa kasihan, tapi dari kesadaran mendalam bahwa kita adalah satu tubuh yang harus bergerak bersama.
Bukan hanya merasa sakit, tapi melakukan sesuatu untuk mencabut penyebab sakitnya.
