Bondowoso – Seperti “urat nadi” yang mulai melemah, kondisi Jembatan Koncer di Kecamatan Tenggarang kini menjadi sumber kecemasan warga. Retakan dan lubang di badan jembatan membuat masyarakat khawatir infrastruktur tersebut bernasib sama seperti Jembatan Sentong yang sebelumnya roboh di Kelurahan Nangkaan.
Kekhawatiran itu mencuat setelah arus kendaraan dialihkan pasca ambruknya Jembatan Sentong. Sejak saat itu, Jembatan Koncer menjadi jalur alternatif penghubung Bondowoso–Jember. Volume kendaraan meningkat signifikan, termasuk truk bermuatan berat yang setiap hari melintasi jembatan tersebut. Kondisi ini memicu kekhawatiran warga karena fisik jembatan dinilai sudah lama mengalami kerusakan.
“Jembatan Koncer itu mengkhawatirkan karena ada retakan dan sudah lama, malah ada bolongnya. Kalau berpapasan dengan mobil besar terasa getarannya kuat. Di sisi barat sebelah utara juga sudah beberapa kali ditambal sulam pakai semen. Kalau sampai jebol seperti Jembatan Sentong, bagaimana? Kami jadi makin jauh ke Pasar Induk Bondowoso, padahal kami cari makan di sana,” ujar Dhebo, warga Grujugan yang rutin melintas di jalur tersebut.
Keluhan tersebut mencerminkan persoalan klasik infrastruktur daerah, yakni minimnya perawatan dan lambatnya respons terhadap potensi kerusakan. Warga menilai, penanganan sering kali baru dilakukan setelah kondisi memburuk atau bahkan terjadi insiden.
Kepala BSBK Bondowoso, Ansori, mengakui bahwa Jembatan Koncer telah lama masuk daftar prioritas pengajuan perbaikan. Selain jembatan tersebut, pihaknya juga rutin mengusulkan perbaikan Jembatan Ring Road dan jembatan menuju arah Tegalampel.
“Tiga titik jembatan yang selalu kami usulkan setiap tahun yaitu Jembatan Ring Road yang sampai sekarang belum selesai, kemudian Jembatan Koncer, dan satu lagi jembatan menuju arah Tegalampel,” kata Ansori.
Namun demikian, hingga kini belum ada kepastian realisasi atas usulan tersebut. Ansori menyebut pihaknya belum menerima jawaban resmi dari instansi terkait dan berencana kembali melakukan koordinasi pada 2026.
“Untuk usulan yang kami sampaikan, sampai sekarang kami belum mendapatkan jawaban. Tahun 2026 ini kami akan kembali melakukan koordinasi,” ujarnya.
Di sisi lain, lalu lintas harian rata-rata di Jembatan Koncer terus meningkat sejak difungsikan sebagai jalur alternatif utama. BSBK menyatakan telah melakukan perbaikan ringan, seperti penambalan lubang di sekitar akses jembatan. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum menyentuh persoalan struktural yang menjadi sumber kekhawatiran warga.
Ironisnya, berdasarkan hasil rapat koordinasi, kendaraan berat sebenarnya tidak diperbolehkan melintas di Jembatan Koncer. Larangan tersebut dimaksudkan untuk mengurangi beban pada struktur jembatan. Namun di lapangan, aturan itu belum berjalan efektif.
“Kami sudah menyampaikan bahwa kendaraan berat atau truk bermuatan tidak boleh lewat Jembatan Koncer, tetapi kenyataannya masih banyak yang melintas,” tegas Ansori.
Kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan serta minimnya penegakan aturan. Tanpa pengendalian yang ketat, risiko kerusakan semakin besar, apalagi jika beban kendaraan terus meningkat. Pemerintah daerah memang telah mengarahkan kendaraan dari arah Jember melalui Desa Taman menuju kawasan Bataan sebelum diputar ke arah timur, namun tanpa rambu pembatasan dan pengawasan intensif, jalur tersebut kerap diabaikan pengendara.
Belajar dari peristiwa runtuhnya Jembatan Sentong, masyarakat kini berharap langkah preventif segera diambil sebelum terjadi insiden serupa. Sebab jika Jembatan Koncer mengalami kerusakan serius, dampaknya bukan hanya pada akses transportasi, tetapi juga pada aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada jalur tersebut.
Pada akhirnya, persoalan ini menjadi ujian bagi pemerintah daerah: bertindak cepat untuk mencegah risiko, atau menunggu kejadian berikutnya sebagai pemicu kebijakan.
