Mojokerto – Di bawah langit cerah yang seolah ikut merayakan kebahagiaan, kediaman Kepala Desa Leminggir, H. Khusaeni, SH, di Dusun Ngagrok RT 01 RW 01 tampak berubah menjadi pusat sukacita. Tradisi ngunduh mantu untuk putri beliau, Dea Fitriana Khusinda S.Mat.Gr, bersama sang suami, Pratu Fahat Nur Iswandi, berlangsung meriah selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (23/11/2025). Suasana acara memadukan kegembiraan, silaturahmi, dan kekentalan budaya yang masih dijaga masyarakat setempat.
Sejak pagi, arus tamu tak pernah putus memasuki area kediaman yang telah ditata penuh detail. Ratusan tamu dari berbagai kalangan hadir untuk memberikan doa restu bagi pasangan pengantin baru itu. Panggung hiburan, dekorasi pelaminan, hingga tenda besar yang dipenuhi warna cerah tampak memperindah rangkaian acara. Warga datang silih berganti, membawa senyum dan ucapan selamat bagi tuan rumah yang tengah bersuka cita.
“Alhamdulillah acara ngunduh mantu berjalan lancar dan khidmat selama dua hari. Saya sangat berterima kasih atas kehadiran masyarakat serta teman-teman awak media,” ujar H. Khusaeni, SH dengan wajah penuh rasa syukur.
Ia menambahkan harapannya untuk kehidupan pernikahan putrinya. “Semoga Dea dan Fahat menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah,” imbuhnya dengan nada penuh doa.
Acara tersebut semakin lengkap dengan persiapan hidangan melimpah yang menjadi daya tarik bagi para undangan. Setidaknya 10 menu khas Nusantara disajikan, mulai dari nasi soto, rawon, pecel lontong, kikil, kupang, cecek, nasi goreng, pecel, bakso, hingga berbagai pilihan makanan lain yang bisa dinikmati sepuasnya. Keberagaman sajian ini mencerminkan keramahan tuan rumah sekaligus tradisi desa yang menjunjung tinggi prinsip memuliakan tamu.
Bagi sebagian warga, momentum ngunduh mantu seperti ini menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi lokal di tengah arus modernitas. Selain sebagai perayaan pernikahan, acara tersebut juga menjadi ruang memperkuat hubungan sosial melalui interaksi antartetangga, kerabat, dan tamu yang hadir dari luar daerah. Tidak sedikit warga yang mengaku rindu suasana kebersamaan seperti ini, terlebih setelah beberapa tahun terakhir tradisi besar sempat meredup akibat pembatasan berbagai kegiatan.
Kemeriahan acara juga menjadi bukti bahwa tradisi pernikahan nusantara tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Setiap detail acara berjalan dengan rapi, mulai dari prosesi adat, jamuan tamu, hingga hiburan musik yang menambah semarak suasana akhir pekan itu.
Dengan berakhirnya seluruh rangkaian ngunduh mantu, keluarga besar H. Khusaeni menutup acara dengan penuh rasa syukur. Kebahagiaan yang terpancar tidak hanya dirasakan oleh kedua mempelai, tetapi juga masyarakat yang turut menikmati suasana hangat dan penuh kekeluargaan tersebut.
