Blitar – Di sudut kota Blitar, tepatnya di Kelurahan Bendogerit Kecamatan Sananwetan, sebuah cerita pilu tersimpan di balik reruntuhan rumah milik Nunik Dyah Sulistyo Wati. Rumah yang telah menjadi tempat tinggal keluarganya selama 35 tahun itu, kini sebagian telah rata dengan tanah, digusur oleh Pemkot Blitar untuk pembangunan taman Kantor Kelurahan Bendogerit.
Nunik, dengan mata berkaca-kaca, menceritakan bagaimana proses penggusuran terjadi tanpa seizin dirinya. “Kami terpaksa merelakan sebagian rumah yang dirobohkan. Prosesnya cepat dan tanpa pemberitahuan yang jelas,” katanya. Bangunan ini adalah warisan dari ibunya, Koesmoktijah, yang telah ditempati sejak almarhum ayahnya, Sartono, menjabat sebagai Lurah Bendogerit periode 1983-1996.
Sebelum penggusuran, Nunik menjelaskan, ada janji dari pihak kelurahan yang mengatakan bahwa akan ada anggaran antara Rp17-27 juta untuk rehabilitasi bangunan mereka. Namun, kenyataannya dana yang cair hanya berkisar Rp10-17 juta, dan itu pun sulit dicairkan karena memerlukan tanda tangan dari tetangga sekitar yang enggan menandatangani.
“Saya ikhlas jika sebagian tanah diambil oleh Pemkot, tapi saya mohon diberi akses jalan sedikit untuk keluar masuk,” keluh Nunik. Bagian rumah yang digusur meliputi kamar milik ibunya dan kamar mandi. Kini, Nunik dan keluarganya harus tinggal berdesakan dan menumpang kamar mandi di rumah tetangga.
Ironisnya, lahan yang ditempati Nunik tidak tercantum dalam denah pustu (puskesmas pembantu), dan pihak Kelurahan Bendogerit juga tidak memiliki bukti kepemilikan aset tersebut.
Saat dikonfirmasi, Lurah Bendogerit Kecamatan Sananwetan Kota Blitar memilih bungkam dan hanya meminta agar masalah ini ditanyakan langsung ke BPKAD. “Bisa langsung tanya ke BPKAD. Karena memang mereka tak punya bukti kepemilikan,” katanya singkat.
Kisah Nunik Dyah Sulistyo Wati adalah satu dari sekian banyak potret warga yang harus rela kehilangan rumah tanpa kompensasi yang layak. Harapannya kini tertuju pada Pemkot Blitar agar memberikan solusi yang adil atas permasalahan yang dihadapinya. Hingga saat ini, Nunik dan keluarganya masih berjuang mencari keadilan dan tempat tinggal yang layak.
