Cirebon – “Budaya tidak akan punah jika generasi muda mau menengok akar mereka,” ujar seorang peserta di sela-sela acara Care to Culture 2025. Kalimat itu merangkum suasana di Gedung Universitas CIC Kota Cirebon pada [Sabtu (30/8/2025)], ketika ratusan pelajar, akademisi, dan pegiat budaya berkumpul dalam semangat kebersamaan bertema “Generasi Melek Budaya di Era Digital.”
Dalam acara yang dikemas interaktif itu, hadir sosok muda inspiratif, Michelin Harosan Syadida, Jaka Pariwisata Kota Cirebon 2025, bersama pasangannya Trixy Gabriel Buditama, Rara Pariwisata 2025. Keduanya menjadi representasi wajah baru generasi Cirebon yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya lokal di tengah perkembangan teknologi.
Michelin dalam sesi talkshow utamanya berbicara dengan gaya tenang dan lugas, menegaskan pentingnya langkah kecil dalam menjaga budaya di kehidupan sehari-hari.
“Budaya tidak harus dijaga lewat hal besar atau seremoni megah. Justru langkah kecil yang konsisten bisa membawa perubahan besar. Misalnya, mengembalikan penggunaan bahasa Cerbon dalam percakapan, atau menjadikan media sosial sebagai ruang memperkenalkan budaya daerah,” ucapnya di hadapan peserta.
Pandangan tersebut disambut hangat oleh para peserta, terutama kalangan pelajar. Mereka merasa terinspirasi bahwa pelestarian budaya tidak harus dimulai dari hal rumit, tetapi bisa melalui tindakan sederhana dan relevan dengan kehidupan digital masa kini.
Acara juga menghadirkan Pa Ade Supriyadi, pengrajin topeng Cirebon yang dikenal sebagai pelestari seni tradisional. Ia berbagi kisah perjuangannya menjaga eksistensi seni topeng di tengah arus modernisasi. Dari kalangan akademisi, Assoc. Prof. Dr. Chandra Lukita, S.E., M.M., M.T.I., Rektor Universitas CIC, turut memberikan pandangan mendalam tentang peran budaya dalam membentuk karakter bangsa.
“Budaya adalah fondasi dari pembangunan karakter. Anak muda perlu dibekali kesadaran budaya agar kemajuan mereka tetap berpijak pada nilai dan jati diri bangsa,” ujarnya dalam sambutan.
Kegiatan Care to Culture 2025 dikemas dalam bentuk talkshow, workshop seni topeng, pameran budaya, hingga dialog lintas generasi. Acara ini menjadi ruang bagi anak muda untuk mengenal kembali warisan lokal sekaligus menemukan cara baru dalam menjaganya melalui media digital.
Michelin tampil tidak hanya sebagai figur publik, tetapi juga sebagai jembatan antara pelajar dan pelaku budaya. Beberapa akademisi menilai gaya komunikasinya mampu menghadirkan wacana yang membumi namun tetap inspiratif.
“Kita bisa melihat bagaimana budaya sebenarnya tidak pernah jauh dari kita. Selama masih ada generasi yang mau mengenalnya, memahaminya, dan menceritakannya kembali dengan cara yang relevan, budaya itu akan tetap hidup,” tambah Michelin dalam penutup sesi.
Sosok Michelin Harosan Syadida mencerminkan generasi muda yang berkarakter, cerdas, dan berempati terhadap nilai-nilai lokal. Melalui perannya sebagai Jaka Pariwisata Kota Cirebon 2025, ia mengusung gagasan sinergi antara edukasi, budaya, dan teknologi sebagai pondasi pembangunan generasi masa depan.
Acara Care to Culture 2025 pun berakhir dengan satu pesan kuat: budaya bukan hanya peninggalan masa lalu, tetapi juga arah masa depan. Di tangan generasi seperti Michelin, harapan untuk melihat budaya Cirebon tetap hidup di tengah arus globalisasi kian nyata.
