Jejak transformasi Kutai Kartanegara pada abad ke-16 menjadi salah satu momen penting sejarah Indonesia. Dari sebuah kerajaan Hindu, wilayah ini beralih menjadi kesultanan Islam, membuka babak baru dalam tata pemerintahan, hukum, dan budaya. Perubahan ini bukan sekadar pergantian keyakinan, tetapi juga pergeseran identitas politik dan sosial yang mengakar hingga kini.
Awal proses Islamisasi di Kutai Kartanegara tidak lepas dari arus perdagangan pesisir. Pedagang dan mubalig dari Melayu, Jawa, hingga Gujarat membawa ajaran Islam melalui interaksi dagang dan pertukaran budaya. Tahun 1575 menjadi penanda penting, ketika Raja Aji Mahkota memeluk Islam dan mengubah gelarnya menjadi Sultan Aji Muhammad. Langkah ini menandai lahirnya kesultanan dengan Islam sebagai agama resmi.
“Tuan Tunggang Parangan adalah sosok berpengaruh yang mengajarkan Islam di Kutai,” ungkap sejarawan lokal M. Yunus, menjelaskan peran ulama dalam proses dakwah. Bersama Datuk Ri Bandang, ulama asal Minangkabau ini menjadi penghubung utama antara Islam dan lingkungan istana.
Kisah rakyat setempat menyebutkan adanya adu kesaktian antara Tuan Tunggang Parangan dan Raja Aji Mahkota. Setelah kalah, sang raja menerima ajaran Islam dan memerintahkan penyebaran dakwah ke seluruh lapisan masyarakat. Tuan Tunggang Parangan kemudian menetap di Kutai, mendirikan pusat pengajaran agama, serta membantu merumuskan aturan pemerintahan berbasis syariat yang terus dijalankan penerusnya.
Transformasi ini membawa perubahan besar. Sistem hukum Islam menggantikan norma Hindu, dan struktur pemerintahan berubah menjadi format kesultanan. Kehidupan budaya pun menyesuaikan dengan nilai-nilai baru, termasuk upacara, seni, dan tata kelola sosial. Keputusan politik Sultan Aji Muhammad juga memperkuat posisi Kutai di kawasan pesisir timur Kalimantan.
Puncaknya terjadi pada 1605, saat Kesultanan Kutai Kartanegara menaklukkan Kerajaan Kutai Martapura di Muara Kaman. Integrasi ini melahirkan istilah “Kutai Kartanegara ing Martadipura,” yang menandai bersatunya dua kerajaan besar di bawah panji Islam. Peristiwa ini tidak hanya memperluas wilayah kekuasaan, tetapi juga memperkokoh identitas Islam di seluruh Kutai.
Peralihan Kutai Kartanegara dari Hindu ke Islam adalah bukti bagaimana keyakinan dapat mengubah arah sejarah. Bukan hanya soal pergantian agama, melainkan juga penyatuan politik, transformasi hukum, dan pembentukan warisan budaya yang bertahan hingga kini.
